BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat terjadinya inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 2,08 persen pada Agustus 2025.
Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa angka tersebut menunjukkan peningkatan Indeks Harga Konsumen atau IHK dari 105,53 pada Agustus 2024 menjadi 107,72 pada Agustus 2025.
“Secara umum, harga berbagai komoditas mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya dalam siaran pers pada Senin, 1 September 2025.
Sementara itu, secara month-to-month (m-to-m) terjadi deflasi sebesar 0,44 persen, dan secara year-to-date (y-to-d) tercatat inflasi sebesar 1,01 persen.
Agnes merinci bahwa inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 7,57 persen, diikuti oleh makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,08 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,87 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki naik 2,05 persen, sementara kelompok pendidikan dan kesehatan masing-masing naik 1,64 persen dan 1,31 persen. Sebaliknya, kelompok transportasi dan informasi, komunikasi, serta jasa keuangan mengalami penurunan indeks masing-masing sebesar 1,01 persen dan 0,16 persen.
Kontribusi terhadap inflasi y-on-y terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,18 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,43 persen, dan penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,31 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki, pendidikan, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga memberikan andil meski lebih kecil. Di sisi lain, kelompok transportasi dan informasi, komunikasi, dan jasa keuangan masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,10 persen dan 0,01 persen.
Beberapa komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y antara lain bawang merah, emas perhiasan, Sigaret Kretek Mesin (SKM), kopi bubuk, minyak goreng, nasi dengan lauk, dan mie kering instan. Komoditas lain seperti ikan bakar, udang basah, kangkung, ikan peda, serta sewa dan kontrak rumah juga turut menyumbang kenaikan harga.
Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi y-on-y meliputi ikan nila, angkutan udara, ikan gabus, bensin, cabai rawit, dan solar.
Untuk perkembangan harga secara bulanan (m-to-m), komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar adalah ikan gabus, cabai rawit, tomat, dan daging ayam ras. Beberapa komoditas lain seperti terong, ikan baung, ikan nila, dan semangka juga mencatat penurunan harga.
Sebaliknya, angkutan udara, bawang merah, emas perhiasan, dan minyak goreng menjadi penyumbang utama inflasi m-to-m, disusul oleh ikan peda, kontrak rumah, dan beras.
Agnes menekankan bahwa pemantauan BPS dilakukan di empat kabupaten/kota, yakni Kabupaten Sukamara, Kabupaten Kapuas, Kota Palangka Raya, dan Sampit.
“Inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Sukamara sebesar 2,42 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Palangka Raya sebesar 1,85 persen,” tuturnya.
Data ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha dalam merumuskan kebijakan ekonomi dan pengendalian harga di Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/H)









