PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 3,08 persen pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau di bulan Agustus 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa indeks harga kelompok ini meningkat dari 107,39 pada Agustus 2024 menjadi 110,70 pada Agustus 2025.

“Kenaikan ini menunjukkan adanya tekanan harga yang cukup signifikan, terutama pada subkelompok minuman tidak beralkohol,” kata Agnes pada Jumat, 5 September 2025.

Agnes mengungkapkan bahwa subkelompok minuman tidak beralkohol mengalami inflasi tertinggi, yakni sebesar 8,38 persen. Sementara itu, subkelompok makanan mencatat inflasi terendah sebesar 2,44 persen.

“Konsumsi harian masyarakat sangat dipengaruhi oleh harga minuman kemasan dan produk olahan, sehingga lonjakan harga pada komoditas ini berdampak besar terhadap inflasi kelompok secara keseluruhan,” tambahnya.

Secara y-on-y, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi sebesar 1,88 persen terhadap total inflasi di Kalimantan Tengah. Komoditas yang paling berkontribusi antara lain bawang merah (0,39 persen), Sigaret Kretek Mesin (SKM) (0,18 persen), dan kopi bubuk (0,17 persen). Minyak goreng, mie instan, dan udang basah juga turut menyumbang inflasi, masing-masing di bawah 0,1 persen.

Meski banyak komoditas memberikan sumbangan inflasi, beberapa justru berkontribusi terhadap deflasi. Ikan nila tercatat sebagai komoditas dengan andil deflasi tertinggi sebesar 0,20 persen, diikuti ikan gabus (0,09 persen) dan cabai rawit (0,04 persen).

“Penurunan harga pada komoditas perikanan dan sayuran segar menjadi penyeimbang tekanan inflasi,” jelas Agnes.

Secara month-to-month (m-to-m), kelompok ini justru mengalami deflasi sebesar 0,53 persen pada Agustus 2025. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi m-to-m antara lain ikan gabus (0,17 persen), cabai rawit (0,15 persen), dan tomat (0,12 persen). Penurunan harga daging ayam ras, terong, dan semangka juga turut memperkuat tren deflasi bulanan.

Meski terjadi deflasi secara bulanan, beberapa komoditas tetap memberikan tekanan inflasi m-to-m, seperti bawang merah (0,04 persen) dan minyak goreng (0,02 persen). Komoditas lain seperti ikan peda, kacang panjang, dan susu cair kemasan masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,01 persen.

“Fluktuasi harga pangan memang dinamis, dan kami terus memantau pergerakannya untuk menjaga stabilitas,” tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/Y)