BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa proses fotosintesis pada tanaman merupakan mekanisme terbesar di dunia dalam memanen energi matahari dan mengubah senyawa anorganik menjadi senyawa organik yang menopang kehidupan.
“Setiap tahun, fotosintesis menghasilkan sekitar 220 miliar ton bahan organik. Tanpa proses ini, kelestarian kehidupan di bumi tidak mungkin terjamin,” ujar Eddy dalam keterangan tertulis pada Senin, 13 Oktober 2025.
Menurut Eddy, perkebunan kelapa sawit memiliki peran strategis sebagai hamparan bioreaktor biologis yang mampu menangkap energi matahari secara masif. Ia merujuk pada jurnal PASPI Monitor (2024) yang menyebut bahwa semakin luas lahan sawit, semakin besar pula kapasitasnya dalam memanen energi matahari.
“Ini bukan sekadar produksi minyak nabati, tetapi juga kontribusi ekologis yang nyata,” tambahnya.
Energi matahari, meskipun tersedia melimpah, tetap membutuhkan alat pemanen agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Eddy menjelaskan bahwa tanaman kelapa sawit berfungsi sebagai penghubung antara sumber energi utama alam semesta, matahari dengan manusia. Melalui fotosintesis, energi cahaya ditangkap dan disimpan dalam bentuk energi kimia berupa minyak sawit dan biomassa.
Lebih lanjut, Eddy memaparkan tiga proses utama dalam pemanfaatan energi matahari oleh perkebunan sawit, yakni fotosintesis atau asimilasi, respirasi tanaman, dan pemanenan energi. Ketiganya berkontribusi dalam menyerap karbon dioksida (Co?) dari atmosfer dan menghasilkan oksigen (o?) yang dilepaskan kembali ke udara, menjaga keseimbangan siklus karbon dan oksigen.
“Proses fotosintesis menyerap Co? dan air dari tanah, lalu mengubahnya menjadi bahan organik dan oksigen. Sementara respirasi tanaman memecah sebagian biomassa untuk menghasilkan energi bagi pertumbuhan,” jelas Eddy.
Ia menambahkan bahwa proses pemanenan energi secara neto menjadikan perkebunan sawit sebagai penyerap karbon sekaligus penghasil oksigen.
Dengan mekanisme tersebut, perkebunan kelapa sawit dinilai memberikan jasa lingkungan yang signifikan. Eddy menyebutnya sebagai bagian dari paru-paru ekosistem bumi.
“Sawit bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga penjaga siklus kehidupan melalui kontribusinya terhadap udara bersih dan keseimbangan karbon,” katanya.
Selain fungsi ekologis, perkebunan sawit juga menghasilkan bahan organik dalam bentuk minyak sawit (crude palm oil dan palm kernel oil) serta biomassa seperti pelepah, batang, cangkang, tandan buah, dan serat. Eddy menekankan bahwa seluruh hasil tersebut merupakan bagian dari proses biologis alamiah yang berlangsung secara simultan dan berkelanjutan.
“Ke depan, kita perlu memperkuat narasi bahwa sawit adalah bagian dari solusi lingkungan, bukan ancaman. Dengan pendekatan ilmiah dan data yang akurat, kita bisa menunjukkan bahwa perkebunan sawit berkontribusi pada ketahanan energi, ekonomi, dan ekologi,” tutup Eddy. (TESTI PRISCILLA/y)









