BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat industri strategis nasional melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan PT Pindad dan Institut Teknologi Bandung atau ITB.
Acara berlangsung di Divisi Munisi PT Pindad, Turen, Malang. Fokus utama kerja sama ini adalah pendanaan pembangunan fasilitas bahan baku untuk industri pertahanan serta penguatan riset dan teknologi manufaktur dalam negeri.
Penandatanganan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan BPDP, termasuk Direktur Utama Eddy Abdurrachman, Direktur Keuangan Zaid Burhan Ibrahim, Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir Mohammad Alfansyah, serta Anggota Dewan Pengawas Joko Supriyono. Kehadiran mereka menandai pentingnya sinergi antara lembaga pengelola dana, industri, dan akademisi dalam mendorong kemandirian nasional.
Dalam sambutannya, Eddy Abdurrachman menegaskan bahwa pembangunan fasilitas ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari strategi hilirisasi berbasis sumber daya perkebunan. Ia menyebut bahwa nilai tambah industri strategis harus terjadi di dalam negeri agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor bahan baku.
“Pembangunan Pabrik Bahan Baku Industri Alutsista Merah Putih ini mencerminkan visi bersama untuk memperkuat kemandirian bangsa dalam teknologi strategis,” ujar Eddy pada Minggu, 26 Oktober 2025.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia dan keterlibatan industri lokal dalam rantai pasok nasional.
BPDP memastikan bahwa pendanaan dilakukan dengan prinsip akuntabilitas dan tata kelola yang baik. Transparansi dan manfaat jangka panjang bagi negara menjadi landasan utama dalam pelaksanaan kerja sama ini. Hal ini sejalan dengan peran BPDP sebagai katalisator pembangunan ekonomi berbasis perkebunan.
Kolaborasi ini juga menjadi wujud nyata dari konsep triple-helix: pemerintah sebagai fasilitator, akademisi sebagai pusat inovasi, dan industri sebagai pelaksana produksi. Dengan pendekatan ini, diharapkan transfer teknologi dan peningkatan kompetensi tenaga kerja dapat berjalan lebih cepat dan terarah. (TESTI PRISCILLA/H)









