PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Seluruh ekspor Kalimantan Tengah pada periode Januari hingga Agustus 2025 tercatat senilai US$2.294,76 juta, seluruhnya berasal dari komoditas nonmigas. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 13,71 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$2.659,21 juta. Meski demikian, dari sisi volume, ekspor Kalimantan Tengah justru mencatat kenaikan sebesar 0,81 persen dibandingkan Januari-Agustus 2024.

Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa penurunan nilai ekspor tersebut lebih dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas utama di pasar global, sementara dari sisi kuantitas, aktivitas ekspor masih berjalan stabil.

“Volume ekspor meningkat, namun nilai transaksi menurun karena penurunan harga beberapa komoditas unggulan seperti batu bara dan karet,” kata Agnes pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Dari sisi sektor, industri pengolahan menjadi salah satu pendorong ekspor nonmigas Kalimantan Tengah. Selama Januari–Agustus 2025, nilai ekspor sektor ini mencapai US$327,69 juta atau berkontribusi 27,35 persen terhadap total ekspor provinsi. Capaian tersebut meningkat 38,22 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 yang tercatat sebesar US$173,58 juta.

“Peningkatan ekspor industri pengolahan menunjukkan semakin kuatnya daya saing produk olahan lokal di pasar internasional,” ujar Agnes.

Beberapa komoditas unggulan industri pengolahan yang diekspor dari Kalimantan Tengah antara lain minyak kelapa sawit, karet remah, kayu olahan, kayu lapis, bahan kimia dasar organik berbasis pertanian, serta bungkil dan residu pertanian. Produk-produk tersebut menjadi penyumbang penting dalam menjaga stabilitas ekspor daerah, terutama ketika sektor tambang mengalami tekanan.

Sementara itu, sektor pertambangan masih mendominasi struktur ekspor Kalimantan Tengah dengan nilai mencapai US$1.647,19 juta, atau berkontribusi 71,78 persen terhadap total ekspor Januari–Agustus 2025. Namun, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, nilai ekspor tambang turun 24,91 persen atau setara dengan US$546,55 juta. Penurunan tersebut disebabkan oleh melemahnya permintaan global dan penyesuaian harga batu bara di pasar internasional.

Agnes menambahkan bahwa komoditas utama ekspor tambang Kalimantan Tengah pada periode ini meliputi batu bara, bijih zirconium, niobium, tantalum, lignit, bahan mineral lainnya, bijih titanium, serta zirconium silikat.

“Kami terus mendorong diversifikasi ekspor agar tidak hanya bergantung pada sektor tambang, tetapi juga memperkuat industri pengolahan dan pertanian bernilai tambah,” tuturnya.(TESTI PRISCILLA/y)