BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa selama periode Januari hingga Agustus 2025, komoditas utama ekspor daerah ini masih didominasi oleh batu bara, minyak kelapa sawit, serta bijih zirconium, niobium, dan tantalum.
Ketiga komoditas tersebut masing-masing termasuk dalam kelompok bahan bakar mineral, kelompok lemak dan minyak hewani/nabati, serta kelompok bijih, kerak, dan abu logam.
“Ketiga kelompok barang ini menjadi penyumbang terbesar terhadap total ekspor Kalimantan Tengah,” jelas Agnes di Palangka Raya pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Secara kumulatif, nilai ekspor Kalimantan Tengah pada Januari–Agustus 2025 tercatat sebesar US$2.294,76 juta, turun sekitar US$364,45 juta atau 13,71 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Menurut Agnes, penurunan terbesar terjadi pada kelompok komoditas bahan bakar mineral yang nilainya merosot US$510,70 juta atau turun 24,52 persen.
“Faktor harga batu bara global dan permintaan dari beberapa negara tujuan turut mempengaruhi penurunan ekspor di kelompok ini,” ujarnya.
Selain bahan bakar mineral, kelompok bijih, kerak, dan abu logam juga mengalami penurunan signifikan. Nilainya menyusut sebesar US$42,59 juta atau turun 43,10 persen dibanding tahun sebelumnya. Agnes menjelaskan bahwa tren penurunan pada kelompok ini sudah terlihat sejak awal tahun akibat terbatasnya volume ekspor dan perubahan harga komoditas di pasar dunia.
“Kinerja ekspor sektor ini cukup sensitif terhadap dinamika pasar global,” tambahnya.
Meski demikian, sejumlah kelompok barang justru menunjukkan peningkatan nilai ekspor. Peningkatan terbesar dicatat pada kelompok lemak dan minyak hewani/nabati, terutama minyak kelapa sawit, dengan nilai naik sebesar US$164,07 juta atau tumbuh 51,38 persen.
“Kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) serta peningkatan permintaan dari beberapa negara Asia menjadi pendorong utama kenaikan ekspor kelompok ini,” terang Agnes.
Selain sawit, kelompok karet dan barang dari karet juga mengalami pertumbuhan positif dengan nilai ekspor meningkat sebesar US$18,24 juta atau 69,49 persen. Menurut Agnes, hal ini menunjukkan adanya perbaikan permintaan industri hilir dari negara tujuan utama seperti Tiongkok dan India.
“Kinerja sektor perkebunan dan turunannya di Kalimantan Tengah cukup stabil sehingga mampu menahan laju penurunan total ekspor,” katanya.
Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya (year on year), nilai ekspor Kalimantan Tengah pada Agustus 2025 justru mengalami kenaikan sebesar US$25,35 juta atau tumbuh 10,85 persen. Peningkatan tertinggi terjadi pada kelompok bahan bakar mineral senilai US$41,51 juta (naik 30,43 persen), disusul kelompok lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$12,67 juta (naik 25,18 persen).
“Namun, penurunan masih terjadi pada kelompok bijih, kerak, dan abu logam yang turun US$15,62 juta atau 43,10 persen,” tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/y)









