BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah mencatat, tiga negara utama tujuan ekspor provinsi ini selama periode Januari hingga Agustus 2025 adalah Jepang, India, dan Tiongkok. Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengatakan nilai ekspor ke Jepang mencapai US$742,24 juta atau berkontribusi sebesar 32,35 persen terhadap total ekspor daerah tersebut.
“Setelah Jepang, ekspor terbesar Kalimantan Tengah mengalir ke India dengan nilai US$443,03 juta atau 19,31 persen, dan ke Tiongkok sebesar US$294,39 juta atau 12,83 persen,” ujar Agnes pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Ia menambahkan, tiga negara tersebut masih menjadi pasar utama bagi komoditas unggulan Kalteng seperti batu bara, minyak kelapa sawit, serta bijih mineral.
Meski masih mendominasi, nilai ekspor ke sejumlah negara tujuan mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor ke Jepang tercatat turun paling signifikan, yakni sebesar US$293,08 juta atau turun 28,31 persen. Penurunan juga terjadi untuk Tiongkok senilai US$88,01 juta atau turun 23,02 persen dan Vietnam sebesar US$74,99 juta atau turun 47,21 persen.
“Tren penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya permintaan global terhadap komoditas bahan bakar mineral dan produk turunan kelapa sawit. Beberapa negara juga tengah melakukan diversifikasi sumber energi dan bahan baku,” jelas Agnes.
Ia menyebut, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi daerah dalam mempertahankan daya saing ekspor.
Di sisi lain, ekspor Kalimantan Tengah ke Pakistan justru menunjukkan tren positif dengan peningkatan nilai mencapai US$54,59 juta atau naik 114,30 persen.
“Pakistan menjadi pasar baru yang cukup potensial bagi komoditas kelapa sawit dan turunannya,” kata Agnes.
Ia menilai, perluasan pasar ekspor nontradisional menjadi langkah penting untuk menjaga pertumbuhan ekspor daerah.
Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, ekspor Kalimantan Tengah pada Agustus 2025 justru mengalami peningkatan senilai US$25,35 juta atau naik 10,85 persen. Peningkatan terbesar tercatat untuk tujuan India sebesar US$16,91 juta atau naik 36,41 persen, disusul Korea Selatan sebesar US$10,70 juta yang naik 419,61 persen.
“Kenaikan bulanan ini menunjukkan adanya perbaikan permintaan, terutama dari Asia Selatan dan Timur,” pungkas Agnes.(TESTI PRISCILLA/y)









