BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat layanan transportasi ekspor melalui pelabuhan di wilayah provinsi ini pada Januari–Agustus 2025 mencapai nilai US$645,12 juta. Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengatakan angka tersebut berkontribusi sebesar 28,11 persen terhadap total ekspor daerah.
“Peningkatan ini menunjukkan kinerja pelabuhan di Kalimantan Tengah semakin optimal dalam mendukung aktivitas perdagangan luar negeri,” kata Agnes pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Agnes menjelaskan, terdapat empat pelabuhan utama yang menjadi pintu ekspor di Kalimantan Tengah, yakni Pelabuhan Kumai dan Pangkalan Bun di Kabupaten Kotawaringin Barat, Pelabuhan Sampit di Kotawaringin Timur, serta Pelabuhan Pulang Pisau di Kabupaten Pulang Pisau. Dari keempatnya, Pelabuhan Kumai tercatat sebagai yang paling dominan.
“Nilai ekspor melalui Pelabuhan Kumai mencapai US$561,18 juta atau sekitar 24,46 persen dari total ekspor Kalimantan Tengah,” kata Agnes.
Adapun ekspor melalui Pelabuhan Sampit senilai US$34,98 juta, Pelabuhan Pulang Pisau US$33,58 juta, dan Pelabuhan Pangkalan Bun US$15,38 juta. Menurutnya, dominasi Pelabuhan Kumai mencerminkan peran strategisnya dalam mengakomodasi pengiriman komoditas unggulan daerah.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, nilai ekspor melalui pelabuhan di wilayah Kalimantan Tengah meningkat signifikan sebesar US$184,56 juta atau naik 40,07 persen.
“Kenaikan tertinggi terjadi di Pelabuhan Kumai yang naik US$161,64 juta atau 40,46 persen dibanding tahun lalu,” jelas Agnes.
Agnes menambahkan, peningkatan kinerja ekspor ini menunjukkan adanya pergeseran aktivitas ekspor dari pelabuhan provinsi lain menuju pelabuhan dalam wilayah Kalimantan Tengah sendiri.
“Hal ini menjadi sinyal positif bagi efisiensi rantai pasok dan peningkatan kapasitas infrastruktur logistik di daerah,” ucapnya.
Ia berharap, peningkatan kinerja pelabuhan ekspor di Kalimantan Tengah dapat terus dioptimalkan melalui peningkatan fasilitas bongkar muat dan sinergi antarinstansi.
“Dengan dukungan infrastruktur yang kuat, potensi ekspor daerah bisa tumbuh lebih berkelanjutan,” tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/y)









