BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor perkebunan melalui Program Pendidikan Pengembangan SDM Perkebunan atau Beasiswa Sawit.
Dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur atau NTT, BPDP juga menegaskan pentingnya Pengarusutamaan Gender atau PUG sebagai bagian dari upaya memastikan akses pendidikan yang setara bagi laki-laki dan perempuan.
Acara sosialisasi dibuka oleh Plh Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, bersama Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng. Dalam sambutannya, Zaid menekankan bahwa BPDP memiliki mandat berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 untuk mengelola dana pengembangan sektor perkebunan nasional.
“Salah satu implementasi nyata dari mandat tersebut adalah Beasiswa Sawit, yang membuka peluang bagi generasi muda Indonesia, termasuk dari NTT, untuk menempuh pendidikan tinggi dan berkarier di sektor strategis ini,“ kata Zaid dalam rilisnya pada Minggu, 2 November 2025.
Sejak diluncurkan, Program Beasiswa Sawit telah menjangkau lebih dari 9.000 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Pada tahun 2025, BPDP menargetkan 4.000 penerima beasiswa baru, meningkat dari tahun sebelumnya. Program ini tidak hanya memberikan pembelajaran teknis tentang kelapa sawit, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan kepemimpinan, manajemen, dan inovasi untuk mencetak pemimpin masa depan di industri perkebunan.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, hadir dua narasumber utama: Rangga Rahmananda, Staf Senior Divisi Pengembangan SDM BPDP, dan Sri Gunawan, Direktur AKPY–STIPER Yogyakarta. Keduanya memaparkan secara rinci mekanisme pendaftaran, proses seleksi, serta manfaat pendidikan tinggi yang ditawarkan. Acara ini dimoderatori oleh Soraya Harlan dari Tim PUG BPDP, yang menekankan pentingnya partisipasi setara antara laki-laki dan perempuan dalam pembangunan sektor perkebunan.
BPDP juga menyoroti kontribusi besar masyarakat NTT dalam industri kelapa sawit nasional. Diperkirakan 15–20 persen tenaga kerja panen sawit berasal dari wilayah ini, yang dikenal memiliki etos kerja tinggi dan dedikasi luar biasa.
“Melalui Beasiswa Sawit, BPDP berharap generasi muda NTT dapat naik kelas dari tenaga kerja lapangan menjadi tenaga ahli, peneliti, manajer, hingga pengambil kebijakan di masa depan,“ tambahnya.
Kegiatan di Manggarai Barat ini menjadi bukti nyata komitmen BPDP dalam mendorong pembangunan perkebunan yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan memperluas akses pendidikan dan menjamin kesetaraan gender, BPDP berupaya memastikan bahwa setiap anak muda Indonesia memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang dan berkontribusi di sektor perkebunan nasional. (TESTI PRISCILLA/H)









