BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyebutkan bahwa emas perhiasan dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi bulan Oktober 2025 di Kalimantan Tengah. Berdasarkan rilis resmi BPS, inflasi month-to-month tercatat sebesar 0,52 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 108,08 menjadi 108,64.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulan Oktober sebesar 0,30 persen,” terang Agnes pada Senin, 3 November 2025.
Ia menambahkan, kenaikan harga emas perhiasan berkontribusi sebesar 0,18 persen terhadap inflasi, diikuti daging ayam ras 0,10 persen, ikan gabus 0,09 persen, beras 0,05 persen, dan telur ayam ras 0,05 persen.
“Kenaikan harga emas dan bahan pangan ini menjadi kombinasi yang cukup signifikan terhadap inflasi bulanan,” ujarnya.
Menurut Agnes, inflasi Oktober tidak hanya disebabkan faktor konsumsi domestik, tetapi juga oleh kondisi eksternal seperti kenaikan harga emas dunia.
“Harga emas global yang terus naik turut memicu penyesuaian harga di tingkat lokal,” jelasnya.
Selain itu, pasokan bahan pangan seperti daging ayam dan ikan gabus yang menurun juga memperkuat tekanan harga di pasar.
Secara tahunan, Kalimantan Tengah mencatat inflasi year-on-year sebesar 2,73 persen, sementara inflasi year-to-date sebesar 1,88 persen.
“Komoditas utama penyumbang inflasi tahunan masih didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 1,43 persen,” papar Agnes.
Beberapa komoditas yang menonjol antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, bawang merah, dan kopi bubuk.
Berdasarkan hasil pemantauan BPS, keempat kabupaten/kota IHK di Kalimantan Tengah sama-sama mengalami inflasi bulanan maupun tahunan.
“Ini menunjukkan bahwa gejolak harga tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi merata di seluruh daerah pengamatan,” terang Agnes.
Ia menambahkan bahwa tingginya curah hujan yang memengaruhi hasil tangkapan ikan serta kenaikan harga beras dari luar daerah turut memperkuat tekanan inflasi.
“Kondisi ini perlu diantisipasi melalui penguatan ketersediaan pasokan pangan lokal agar harga tetap stabil,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/y)









