JAKARTA –

BORNEONEWS, Sampit - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) meminta masyarakat lebih waspada dan peka terhadap pertanda alam untuk menghindari dampak cuaca ekstrem yang belakangan sering terjadi.

“Ketika menemukan pertanda alam, seperti awan yang cukup gelap diikuti embusan angin, sebaiknya jangan beraktivitas di luar ruangan atau berada di bawah pohon yang cukup rindang, karena sudah ada beberapa kejadian pohon tumbang di wilayah kita,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam di Sampit, Selasa.

Ia menjelaskan belakangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan peringatan dini secara berulang terkait adanya potensi bencana hidrometeorologi di sebagian besar wilayah Indonesia.

Masuknya musim hujan ditambah dengan dinamika atmosfer yang aktif meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang dan tanah longsor.

Peringatan dini ini tidak bisa dianggap sepele, khususnya bagi masyarakat Kotim. Sebab, BPBD Kotim mencatat beberapa kali cuaca ekstrem menyebabkan kerugian cukup besar dalam waktu kurang dari seminggu terakhir.

“Sejak 7 November, ada beberapa kejadian cuaca ekstrem. Tidak ada korban jiwa, tetapi kerugiannya cukup besar, di antaranya di Simpang Empat Desa Pelantaran, atap salah satu mini market copot dan menimpa rumah warga dengan kerugian hampir Rp75 juta,” sebutnya.

Dampak cukup signifikan juga terjadi di Puskesmas Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu. Kanopi bangunan itu rusak akibat terpaan angin kencang. Namun, pihaknya tidak menerima laporan mengenai nilai kerugian dari kejadian itu.

Multazam berharap kerusakan pada fasilitas kesehatan ini dapat segera diatasi dan layanan publik dapat segera dipulihkan, mengingat puskesmas merupakan muara pelayanan bagi masyarakat.

BPBD Kotim juga mencatat ada sekitar tujuh pohon tumbang akibat angin kencang pada lokasi yang berbeda-beda. Ada beberapa saluran beton atau box culvert yang rusak akibat terkena akar pohon yang tercabut dari tanah, sehingga perlu penanganan ekstra.

“Dalam beberapa kejadian cuaca ekstrem, kecepatan angin rata-rata di atas 50 km/per jam dan itu cukup merusak," ujarnya.

Tak hanya angin kencang dan pohon tumbang, pihaknya juga menerima laporan tentang adanya banjir rob di Kecamatan Teluk Sampit. Akan tetapi, detail banjir rob ini masih dalam tahap pemantauan, sebab informasi ini baru diterima.

Ia menambahkan berkaitan dengan ancaman cuaca ekstrem ini seluruh pelaku kesiapsiagaan telah bekerja ekstra, terutama dalam hal mengimbau masyarakat guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi sampai adanya korban.

ANTARA