BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah merilis komposisi penduduk bekerja berdasarkan lapangan usaha hasil Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas Agustus 2025. Data ini menggambarkan bagaimana masing-masing sektor ekonomi menyerap tenaga kerja di pasar kerja Kalimantan Tengah.
Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa tiga sektor utama masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di provinsi tersebut.
“Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tetap mendominasi dengan kontribusi 33,02 persen atau sekitar 468,18 ribu orang. Angka ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Kalteng masih sangat ditopang oleh aktivitas berbasis sumber daya alam,” ujar Agnes pada Jumat, 14 November 2025.
Posisi kedua ditempati oleh sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil serta Sepeda Motor dengan porsi 16,48 persen atau 233,70 ribu pekerja. Menurut Agnes, sektor ini konsisten menjadi penyangga ekonomi masyarakat karena perputaran aktivitas jual beli dan layanan otomotif terus meningkat seiring mobilitas penduduk.
Sementara itu, sektor Pertambangan dan Penggalian menempati posisi ketiga dengan kontribusi 10,69 persen atau 151,53 ribu pekerja.
“Peningkatan aktivitas industri ekstraktif mendorong tingginya kebutuhan tenaga kerja di sektor pertambangan, terutama pada komoditas batu bara dan mineral lainnya,” jelas Agnes.
Jika dibandingkan dengan Agustus 2024, terjadi perubahan signifikan dalam distribusi pekerja. Agnes memaparkan bahwa sektor Pertambangan dan Penggalian mengalami kenaikan persentase pekerja terbesar, yaitu mencapai 0,96 persen poin.
“Kenaikan ini mengindikasikan ekspansi atau peningkatan operasi perusahaan tambang di beberapa wilayah Kalteng,” ungkapnya.
Sebaliknya, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami penurunan persentase pekerja paling besar, yaitu 2,16 persen poin. Menurut Agnes, penurunan ini bisa dipengaruhi faktor musiman, alih profesi, atau pergeseran struktur ekonomi daerah.
“Ada kemungkinan tenaga kerja berpindah ke sektor yang memberikan peluang pendapatan lebih menarik, seperti pertambangan atau perdagangan,” tambahnya.
Agnes menekankan bahwa pemahaman terhadap struktur penduduk bekerja perlu melihat berbagai karakteristik lain, tidak hanya berdasarkan lapangan usaha.
“Penduduk bekerja didefinisikan sebagai mereka yang melakukan pekerjaan untuk memperoleh penghasilan atau keuntungan minimal satu jam selama seminggu terakhir. Karena itu, analisis lanjutan juga mencakup status pekerjaan, tingkat pendidikan, jumlah jam kerja, serta aktivitas komuter,” pungkasnya.
BPS Kalteng berharap data ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan, terutama terkait peningkatan kualitas dan pemerataan kesempatan kerja di seluruh sektor ekonomi. (TESTI PRISCILLA/y)









