PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada ajang Indonesian Palm Oil Conference atau IPOC yang berlangsung di Bali, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP Eddy Abdurrachman kembali menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat program biodiesel sebagai strategi ketahanan energi nasional.

Ia menilai, mandatori biodiesel telah menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas industri sawit sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil impor.

Dalam sesi bertema “Challenges and Opportunities of Biofuel Program in Indonesia”, Eddy Abdurrachman memaparkan perjalanan panjang implementasi biodiesel di Indonesia. Sejak dimulai pada 2006, kebijakan ini terus berkembang hingga mencapai penerapan campuran B35–B40, dengan peluang besar menuju penggunaan B50 pada 2026. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan progres signifikan dalam upaya transisi energi hijau di tanah air.

Eddy menjelaskan bahwa program biodiesel memiliki empat tujuan utama yang saling berkaitan.

"Pertama, mengurangi impor solar yang selama ini membebani neraca dagang. Kedua, menjaga stabilitas harga minyak sawit mentah (CPO) agar tetap menguntungkan bagi produsen dan petani. Ketiga, memperbaiki indikator ekonomi makro melalui efisiensi subsidi energi. Keempat, berkontribusi pada peningkatan penggunaan energi terbarukan, sejalan dengan target nasional pengurangan emisi," jelas Eddy pada Sabtu, 15 November 2025.

Ia menambahkan, keberhasilan program biodiesel tidak terlepas dari skema pendanaan yang dikelola BPDP. Melalui mekanisme kompensasi selisih harga, BPDP memastikan pasokan biodiesel di pasar domestik tetap terpenuhi, meski terjadi fluktuasi harga CPO maupun minyak solar.

"Skema ini menjadi instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan program mandatori biodiesel," tegasnya.

Namun demikian, Eddy juga mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu ditangani. Kesiapan infrastruktur distribusi dan pencampuran, beban fiskal, serta kritik dari kelompok lingkungan menjadi isu yang terus mengemuka. Meski begitu, berbagai peluang tetap terbuka lebar, seperti meningkatnya ketahanan energi nasional, penguatan pasar sawit dalam negeri, hingga berkembangnya riset biofuel generasi lanjut yang berpotensi mengurangi tekanan terhadap lahan.

Melalui paparannya, Eddy menegaskan bahwa posisi Indonesia kini semakin kuat sebagai salah satu negara dengan program biodiesel terbesar di dunia. Ia menilai, keberlanjutan program ini membutuhkan konsistensi kebijakan, inovasi teknologi, serta diplomasi keberlanjutan di tingkat internasional. Upaya tersebut diyakini akan menjadi fondasi penting bagi masa depan energi hijau Indonesia. (TESTI PRISCILLA/H)