PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Lulusan SMK menjadi kelompok tenaga kerja yang paling banyak mengalami peningkatan penyerapan di pasar kerja Kalimantan Tengah.

Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, mengatakan bahwa lulusan SMK umumnya lebih siap bekerja pada bidang apa pun, bahkan ketika pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan jurusan semasa sekolah.

“Mereka lebih fleksibel dan cepat menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar kerja,” kata Agnes pada Sabtu, 15 November 2025.

Sebaliknya, lulusan sarjana cenderung lebih selektif, memilih pekerjaan yang sesuai bidang studinya atau menunggu upah yang dianggap sepadan, sehingga banyak di antaranya memilih menganggur sementara.

Agnes menyampaikan bahwa tingkat pendidikan memiliki peran signifikan terhadap kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Data Sakernas Agustus 2023 hingga Agustus 2025 menunjukkan bahwa struktur tenaga kerja di Kalteng masih didominasi oleh penduduk berpendidikan SD ke bawah.

“Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pula keahlian dan produktivitas tenaga kerja,” kata Agnes.

Namun dinamika penyerapan tenaga kerja juga dipengaruhi kebutuhan pasar yang berubah dari tahun ke tahun.

Pada Agustus 2025, persentase penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah tercatat 34,20 persen, turun 1,93 persen poin dibandingkan Agustus 2024. Menurut Agnes, penurunan ini merupakan indikasi awal adanya peningkatan kualitas pendidikan tenaga kerja di Kalteng, meskipun masih berada pada tahap yang perlu terus didorong.

Sementara itu, pekerja berpendidikan SMP dan Universitas justru mengalami penurunan. Persentase tenaga kerja lulusan SMP turun menjadi 17,65 persen, sedangkan lulusan Universitas berada pada angka 11,74 persen, turun tipis 0,05 persen poin. Agnes menilai perubahan ini tidak serta-merta menunjukkan menurunnya minat pendidikan tinggi, tetapi lebih menggambarkan penyesuaian pasar kerja terhadap kebutuhan tenaga terampil.

Di sisi lain, kelompok lulusan SMA, SMK, dan diploma mengalami peningkatan. Pada kategori ini, lulusan SMK mencatatkan kenaikan paling besar, yaitu 1,76 persen poin, sehingga persentasenya mencapai 8,78 persen pada Agustus 2025.

“Kenaikan ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang siap pakai,” kata Agnes.

Agnes menegaskan bahwa perbedaan pola dalam memasuki pasar kerja antara lulusan SMK dan sarjana adalah fenomena yang wajar.

“Sarjana biasanya memiliki ekspektasi tertentu. Mereka merasa harus bekerja sesuai bidang atau mendapatkan upah yang sesuai dengan latar belakang pendidikan. Ini tidak salah, hanya menunjukkan perbedaan orientasi antara pendidikan vokasi dan pendidikan akademik,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dinamika ini menunjukkan pentingnya memperkuat link and match antara pendidikan dan kebutuhan industri di Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/H)