PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat atau Aspekpir Indonesia hadir di Pulau Bengkalis, salah satu wilayah terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura, untuk memperkuat pemberdayaan petani sawit melalui inovasi pemanfaatan pelepah sawit.

Lewat kegiatan bertajuk Praktik Mengolah Pelepah Kelapa Sawit Menjadi Produk UMKM Bernilai Ekonomis, BPDP dan Aspekpir memberikan pelatihan kepada petani untuk memproduksi lidi sawit siap ekspor, pakan ternak berbahan daun sawit, dan biochar untuk peningkatan kualitas tanah.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Andres Wasono, yang hadir mewakili Bupati Bengkalis, menilai kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mendorong peningkatan pendapatan petani serta memperkuat ekonomi masyarakat di daerah perbatasan.

“Inovasi pengolahan pelepah kelapa sawit menjadi produk bernilai ekonomis bukan hanya membuka peluang usaha baru, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perkebunan rakyat di Negeri Junjungan,” katanya dalam rilis BPDP pada Selasa, 2 Desember 2025.

Ketua DPD I Aspekpir Riau, Sutoyo, mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan peran BPDP dalam membuka akses peningkatan kapasitas petani sawit.

“Kami berterima kasih atas dukungan pemerintah daerah dan masyarakat Desa Bantan Tengah. Kolaborasi ini memberikan harapan baru bagi tumbuhnya UMKM sawit dari desa,” tutur Sutoyo.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, melalui sambutan daring menyampaikan bahwa BPDP konsisten memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk petani kelapa sawit, kelapa, dan kakao di banyak daerah.

“Berbagai program promosi UMKM sawit yang kami lakukan telah memberi manfaat nyata. Salah satu contohnya UKM batik di Yogyakarta yang kini mengalami peningkatan omzet dan penyerapan tenaga kerja. Kami berharap kegiatan di Bengkalis melahirkan produk UMKM sawit inovatif yang mampu bersaing hingga pasar global,” ungkap Helmi.

Sebanyak 80 peserta, didominasi anak muda petani sawit dari berbagai desa di Pulau Bengkalis, mengikuti pelatihan ini. Mereka belajar langsung proses pemilahan pelepah hingga menjadi lidi siap ekspor, teknik pembuatan biochar dan aplikasinya pada tanaman, serta formulasi pakan ternak dari daun sawit.

Sebagai bentuk komitmen pengembangan produk turunan sawit, kegiatan ini juga diakhiri dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) ekspor lidi sawit, yang diharapkan dapat membuka pintu pemasaran bagi UMKM sawit Bengkalis menuju pasar internasional. (TESTI PRISCILLA/H)