BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Tim Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, M Taufiqurrahman mengatakan bahwa subkelompok minuman yang tidak beralkohol mengalami inflasi tertinggi di November 2025.
Subkelompok ini berada pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada November 2025 Provinsi Kalimantan Tengah yang mengalami inflasi y-on-y sebesar 3,04 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 108,91 pada November 2024 menjadi 112,22 pada November 2025.
"Subkelompok yang mengalami inflasi y-on-y tertinggi, yaitu subkelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 5,77 persen. Sementara subkelompok yang mengalami inflasi y-on-y terendah yaitu subkelompok makanan sebesar 2,57 persen," kata Taufiqurrahman pada Rabu, 3 Desember 2025.
Secara y-on-y, lanjut Taufiqurrahman, kelompok ini pada November 2025 memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 1,18 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y, yaitu: Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 0,16 persen; beras sebesar 0,14 persen; kopi bubuk sebesar 0,11 persen; telur ayam ras sebesar 0,10 persen; minyak goreng, kangkung, dan ikan gabus masing-masing sebesar 0,08 persen; mie kering instant dan udang basah masing-masing sebesar 0,07 persen; Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan terong masing-masing sebesar 0,04 persen; bayam, bawang merah, makanan ringan/snack, dan cabai merah masing-masing sebesar 0,03 persen; serta daun katuk, ikan layang, kacang panjang, ikan papuyu, dan wortel masing-masing sebesar 0,02 persen.
Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, yaitu daging ayam ras sebesar 0,19 persen; ikan nila sebesar 0,14 persen; bawang putih sebesar 0,04 persen; tomat sebesar 0,03 persen; serta susu bubuk untuk balita, ikan patin, ayam hidup, ikan mas, dan rampela hati ayam masing-masing sebesar 0,01 persen.
"Sedangkan secara m-to-m, kelompok ini pada November 2025 memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 0,05 persen," katanya.
Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi m-to-m, yaitu ikan gabus sebesar 0,12 persen; terong, bayam dan tomat masing-masing sebesar 0,04 persen; telur ayam ras sebesar 0,03 persen; kacang panjang, kangkung, dan bawang merah masing-masing sebesar 0,02 persen; serta ikan saluang, daun katuk, ikan nila, sawi hijau, Sigaret Kretek Mesin (SKM), beras, ketimun, ikan kapar dan ikan lais masing-masing sebesar 0,01 persen.
Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m, yaitu daging ayam ras sebesar 0,32 persen; ikan peda sebesar 0,04 persen, cabai rawit sebesar 0,03 persen; ikan patin dan ikan tongkol masing-masing sebesar 0,02 persen; serta rampela hati ayam dan buah naga masing-masing sebesar 0,01 persen. (TESTI PRISCILLA/y)









