PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat adanya inflasi month-to-month atau bulanan sebesar 1,04 persen pada Desember 2025. Hasil pemantauan di empat kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen atau IHK menunjukkan kenaikan dari 108,85 pada November menjadi 109,98 pada Desember.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,91 persen.

“Komoditas utama yang mendorong inflasi bulan Desember antara lain cabai rawit sebesar 0,18 persen, daging ayam ras 0,16 persen, bawang merah 0,16 persen, beras 0,12 persen, serta ikan gabus 0,09 persen,” ungkapnya pada Kamis, 8 Januari 2026.

Agnes menambahkan, secara year-on-year Kalimantan Tengah mengalami inflasi sebesar 3,13 persen. Angka tersebut juga sama dengan inflasi year-to-date yang tercatat sepanjang tahun 2025.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,59 persen,” jelasnya.

Lebih lanjut, Agnes menyebutkan sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi tahunan.

“Emas perhiasan menyumbang 0,66 persen, beras 0,22 persen, cabai rawit 0,18 persen, sigaret kretek mesin 0,16 persen, dan bawang merah 0,14 persen,” katanya.

Menurut Agnes, tren inflasi di akhir tahun dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal. Momen Natal dan Tahun Baru meningkatkan permintaan barang, sementara curah hujan tinggi menurunkan produksi cabai rawit dan hasil tangkapan ikan. Selain itu, peringatan Haul Guru Sekumpul di Kalimantan Selatan turut mengurangi pasokan barang ke Kalimantan Tengah.

Ia menegaskan bahwa seluruh kabupaten/kota IHK di Kalimantan Tengah mengalami inflasi baik secara bulanan maupun tahunan pada Desember 2025.

“Komoditas emas perhiasan dan cabai rawit menjadi faktor dominan yang memengaruhi inflasi di seluruh wilayah,” ujarnya.

Agnes menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap komoditas pangan yang sensitif terhadap cuaca dan permintaan musiman.

“Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan pasokan dan distribusi agar harga tetap terkendali, terutama menjelang periode dengan permintaan tinggi,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/y)