PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Sawit Berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia atau SKKNI di Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi langkah strategis BPDP dalam menjembatani dunia pendidikan tinggi dengan kebutuhan riil industri perkebunan sawit nasional.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menegaskan bahwa penyelarasan kurikulum menjadi kunci untuk menyiapkan sumber daya manusia sawit yang kompeten dan berdaya saing.

Menurutnya, kurikulum pendidikan tinggi harus mampu menjawab tantangan industri yang terus berkembang, baik dari sisi teknologi, keberlanjutan, maupun tuntutan pasar global.

“Melalui workshop ini, BPDP mendorong agar kurikulum pendidikan tinggi sawit disusun berbasis SKKNI sehingga lulusan tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga siap terjun ke dunia kerja sesuai kebutuhan industri,” ujar Alfansyah pada Rabu, 28 Januari 2026.

Ia menjelaskan, kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan lapangan kerja masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Karena itu, keterlibatan aktif perguruan tinggi, praktisi industri, serta asosiasi pendidikan dinilai penting untuk merumuskan kurikulum yang aplikatif dan relevan.

Workshop ini diikuti oleh 37 perguruan tinggi dengan total 86 peserta yang terdiri dari akademisi, praktisi industri, asosiasi pendidikan, serta pemangku kebijakan. Forum ini menjadi ruang diskusi dan sinkronisasi pandangan guna menyatukan standar kompetensi yang dibutuhkan sektor perkebunan sawit dari hulu hingga hilir.

BPDP berharap, melalui kerja sama dengan Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan, hasil workshop ini dapat diimplementasikan secara nyata di masing-masing perguruan tinggi.

“Tujuan akhirnya adalah mencetak lulusan sawit yang profesional, kompeten, dan mampu memperkuat daya saing industri perkebunan nasional,” pungkas Alfansyah. (TESTI PRISCILLA/H)