BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai ekspor Kalimantan Tengah sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat sebesar US$3.540,24 juta. Angka ini mengalami penurunan 12,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
"Penurunan terbesar terjadi pada ekspor hasil pertambangan, yang merosot hingga 21,58 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan pada sektor komoditas utama daerah, khususnya batu bara yang selama ini menjadi penopang utama ekspor," kata Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Taufiqurrahman pada Selasa, 3 Februari 2026.
Sementara itu, nilai impor Kalimantan Tengah pada periode yang sama mencapai US$37,70 juta. Angka tersebut turun cukup signifikan, yakni 35,42 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tertinggi secara kumulatif terjadi pada sektor industri pengolahan, yang mencerminkan berkurangnya kebutuhan bahan baku maupun peralatan produksi dari luar negeri.
"Meski ekspor dan impor sama-sama mengalami penurunan, neraca perdagangan Kalimantan Tengah tetap mencatatkan surplus besar," tambahnya.
Surplus perdagangan sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai US$3.502,54 juta. Surplus ini menegaskan bahwa nilai ekspor masih jauh lebih tinggi dibandingkan impor, sehingga tetap memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian daerah.
Komoditas utama ekspor Kalimantan Tengah meliputi batu bara, crude palm oil (CPO), kayu olahan, karet remah, bijih zirconium, niobium, tantalum, serta kayu lapis. Produk-produk tersebut masih menjadi andalan dalam perdagangan internasional, meski sebagian mengalami penurunan permintaan. Jepang, India, dan Tiongkok tercatat sebagai negara tujuan utama ekspor dari Kalimantan Tengah.
Di sisi lain, impor Kalimantan Tengah didominasi oleh komoditas mesin ekstraksi, mesin freeze dryer, ketel uap, aspal, dan sapi. Malaysia, Singapura, dan Tiongkok menjadi negara pemasok utama impor tersebut. Penurunan impor di sektor industri pengolahan menunjukkan adanya penyesuaian kebutuhan industri lokal terhadap kondisi pasar global.
“Komoditas utama ekspor adalah batu bara, CPO, kayu olahan, karet remah, bijih zirconium, niobium, dan tantalum, serta kayu lapis. Sedangkan impor didominasi oleh komoditas mesin ekstraksi, mesin freeze dryer, ketel uap, aspal, dan sapi. Jepang, India, dan Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor, sementara Malaysia, Singapura, dan Tiongkok menjadi negara pemasok impor utama,” jelas Taufiqurrahman. (TESTI PRISCILLA/y)









