PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP mengawali tahun 2026 dengan menandatangani 55 perjanjian riset bersama lembaga penelitian dan pengembangan di Indonesia. Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari proses seleksi yang telah berlangsung sejak 2025.

Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, dalam sambutan sekaligus pembukaan kegiatan tersebut menyampaikan bahwa nilai kontrak kerja sama riset mencapai Rp88,1 miliar. Pelaksanaan penelitian dilakukan secara multi years dengan durasi maksimal dua tahun.

"Program Grant Riset Sawit merupakan program rutin tahunan BPDP sebagai upaya mendorong pengembangan riset di sektor kelapa sawit," kata Eddy pada Rabu, 4 Februari 2026.

Hasil riset diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri sawit nasional yang berkelanjutan, dengan prioritas pendanaan pada riset-riset yang siap diimplementasikan dan segera dimanfaatkan oleh industri kelapa sawit nasional.

"Saat ini, terdapat 20 hasil riset yang telah memasuki tahap komersial atau pilot, di antaranya platform pemanan tandan buah segar, grease/pelumas, marka jalan, aplikasi asistensi untuk pekebun, egrek digital, biosilac untuk amelioran tanah, serta beton precast," bebernya.

Dalam upaya mendorong komersialisasi hasil penelitian yang telah selesai pendanaannya, BPDP bekerja sama dengan Asosiasi Inventor Indonesia (AII) melaksanakan Valuasi Kesiapan Teknologi untuk Komersialisasi terhadap invensi hasil riset yang didanai BPDPKS melalui skema Grant Riset Sawit.

Hasil valuasi menunjukkan terdapat 25 invensi yang siap dikomersialisasikan. Sejumlah invensi bahkan telah memperoleh pernyataan minat dari investor dengan komitmen awal dalam bentuk Letter of Intent (LoI) dan/atau perjanjian kerahasiaan teknologi berupa non-disclosure agreement (NDA).

Sementara itu Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, dalam laporannya menyampaikan bahwa pada awal 2025 BPDP membuka Call for Proposal Grant Riset Sawit selama kurang lebih tiga bulan.

"Program ini ditujukan untuk menjaring riset-riset sawit yang berpotensi menghasilkan inovasi guna memajukan kelapa sawit Indonesia," tutur Alfansyah.

Dari pembukaan tersebut, BPDP menerima hampir 1.500 proposal, meningkat 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menunjukkan tingginya minat penelitian terhadap komoditas strategis ini.

Melalui tahapan seleksi administrasi, seleksi substansi, hingga seleksi presentasi, terpilih 55 proposal yang berhak menerima pendanaan Grant Riset Sawit BPDP. Kelima puluh lima proposal tersebut berasal dari 30 lembaga penelitian. Menariknya, sekitar 10 persen dari total lembaga litbang penerima Grant Riset merupakan mitra baru BPDP. Dengan demikian, jumlah pemangku kepentingan riset BPDP bertambah 10 persen dibandingkan tahun lalu.

Bertambahnya mitra baru diharapkan memperluas spektrum penelitian kelapa sawit, tidak hanya pada bidang inovasi dan teknologi yang selama ini didominasi IPB, ITB, ITS, PT RPN, serta perguruan tinggi lainnya, tetapi juga mencakup bidang sosial, humaniora, manajemen, dan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). (TESTI PRISCILLA/y)