BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat realisasi luas panen jagung pipilan sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 9,95 ribu hektare. Angka tersebut meningkat 1,39 ribu hektare atau 16,34 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 yang sebesar 8,56 ribu hektare.
Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, Taufiqurrahman, menjelaskan bahwa kenaikan luas panen jagung pipilan mencerminkan adanya perbaikan kinerja produksi jagung di tingkat petani, meski sebaran waktu panen mengalami pergeseran dibandingkan tahun sebelumnya.
“Secara tahunan terjadi peningkatan luas panen pipilan. Namun, pola puncak panennya bergeser,” kata Taufiqurrahman pada Rabu, 11 Februari 2026.
Menurut Taufiqurrahman, puncak panen jagung pipilan pada 2025 terjadi pada September dengan luas panen sekitar 1,38 ribu hektare. Kondisi ini berbeda dengan 2024, di mana puncak panen terjadi pada Februari.
“Puncak panen September 2025 relatif lebih rendah 1,29 ribu hektare atau turun 48,24 persen dibandingkan puncak panen Februari 2024,” jelasnya.
Perubahan waktu puncak panen tersebut menunjukkan adanya dinamika pola tanam dan waktu panen di lapangan. Faktor cuaca, ketersediaan air, hingga penyesuaian kalender tanam di sejumlah sentra produksi menjadi beberapa variabel yang memengaruhi pergeseran periode panen jagung di Kalimantan Tengah.
BPS juga mencatat, hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Jagung Tahun 2024–2025 mengelompokkan panen jagung dalam tiga jenis, yakni panen hijauan, panen muda, dan panen pipilan. Dari total realisasi 2025, panen pipilan menjadi kontributor terbesar dengan luas 9,95 ribu hektare.
Sementara itu, luas panen jagung jenis hijauan pada 2025 tercatat sekitar 0,94 ribu hektare dan panen muda sebesar 3,15 ribu hektare. Data ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk menyusun kebijakan pengembangan jagung, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah berbasis potensi lokal. (TESTI PRISCILLA/y)









