PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen atau PK-KA 28% sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 59,35 ribu ton. Capaian tersebut mengalami penurunan 1,03 ribu ton atau 1,71 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 60,38 ribu ton.

Statistisi Ahli Madya BPS Kalimantan Tengah, Taufiqurrahman, menjelaskan bahwa dinamika produksi jagung sepanjang 2025 dipengaruhi oleh pola musim tanam dan panen di sejumlah sentra produksi. Fluktuasi produksi terjadi hampir di setiap bulan, mencerminkan pergeseran waktu panen petani di lapangan.

“Pada 2025, produksi JPK-KA 28 persen tertinggi terjadi pada bulan September dengan capaian 8,41 ribu ton. Sementara pada 2024, puncak produksi justru terjadi lebih awal, yakni Februari, dengan produksi mencapai 22,42 ribu ton,” ujar Taufiqurrahman pada Kamis, 12 Februari 2026.

Menurutnya, perbedaan waktu puncak produksi tersebut menggambarkan adanya perubahan kalender tanam di tingkat petani, yang dipengaruhi oleh kondisi iklim, ketersediaan sarana produksi, hingga pola hujan. Pergeseran ini turut berdampak pada sebaran produksi bulanan sepanjang tahun berjalan.

BPS juga mencatat, jika produksi JPK-KA 28 persen dikonversikan menjadi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen atau PK-KA 14%, maka total produksi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 43,87 ribu ton.

"Angka ini turun 0,76 ribu ton atau 1,71 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang tercatat sebesar 44,64 ribu ton," tuturnya.

Taufiqurrahman menambahkan, data produksi jagung ini menjadi salah satu indikator penting untuk melihat perkembangan sektor tanaman pangan di Kalimantan Tengah.

"Informasi ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan penguatan produksi jagung, khususnya dalam menjaga stabilitas pasokan dan mendukung ketahanan pangan daerah," katanya. (TESTI PRISCILLA/y)