BORNEONEWS, Sampit – Kasus campak dilaporkan mengalami peningkatan di sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Dinas Kesehatan setempat memastikan kondisi masih terkendali meski ditemukan 18 kasus sejak awal tahun 2026.
"Secara umum, kasus campak di Kotim masih stabil, tidak ada peningkatan yang signifikan meskipun secara nasional ada tren kenaikan," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, Kamis, 19 Maret 2026.
Berdasarkan data Dinkes Kotim, total 18 kasus suspek campak tersebut tersebar di tiga kecamatan, yakni empat kasus di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, enam kasus di Baamang, dan delapan kasus di Cempaga.
"Terhitung dari minggu pertama hingga minggu ke-10 tahun 2026, total ada 18 kasus suspek campak," tambahnya.
Meski jumlah kasus masih relatif terkendali, Dinkes Kotim tetap meningkatkan kewaspadaan dengan memperkuat langkah antisipasi. Salah satunya melalui penyampaian Surat Edaran dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan kepada seluruh puskesmas.
"Surat edaran ini menjadi acuan dalam upaya pencegahan penularan serta kesiapsiagaan menghadapi potensi kejadian luar biasa (KLB)," ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk lebih waspada dengan menerapkan langkah pencegahan, seperti memastikan anak mendapatkan imunisasi campak-rubella (MR) sebelum usia satu tahun, serta vaksin lanjutan pada usia 1,5 tahun dan 7 tahun.
Dinkes juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, mengonsumsi makanan bergizi, serta menghindari kontak langsung dengan penderita campak.
"Penderita sebaiknya dihindarkan dari ibu hamil, dan diberikan vitamin A untuk membantu proses pemulihan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









