BORNEONEWS, Sampit – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Umar Kaderi, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Nugroho Kuncoro Yudho, menyampaikan keprihatinan terkait maraknya penggunaan vape di kalangan remaja di wilayah tersebut.
Fenomena ini bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan telah menjadi persoalan sosial yang kompleks dengan berbagai risiko kesehatan dan perilaku.
“Penggunaan vape di kalangan remaja bukan sekadar tren, melainkan gejala sosial yang kompleks. Di balik kepulan uap yang tampak ringan dan modern, terdapat persoalan serius seperti identitas diri, tekanan sosial, dan lemahnya kontrol lingkungan masyarakat,” ungkapnya, Minggu, 3 Mei 2026.
Menurutnya, penggunaan vape berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan fisik, seperti gangguan paru-paru berupa batuk kronis hingga sesak napas, peningkatan risiko penyakit jantung, serta penurunan daya tahan tubuh. Dari aspek mental, remaja pengguna vape rentan mengalami ketergantungan nikotin, gangguan konsentrasi, dan kecemasan jika tidak menggunakan vape.
“Dampak sosialnya juga serius. Vape menormalisasi kebiasaan merokok sejak dini, bahkan dianggap biasa oleh anak-anak dan remaja, serta membuka peluang mencoba zat berbahaya lain seperti narkotika dan psikotropika,” jelasnya.
Nugroho menambahkan bahwa masa remaja adalah periode pencarian identitas, penuh rasa ingin tahu dan mudah terpengaruh lingkungan sekitar. Vape kerap diasumsikan sebagai simbol keren dan kedewasaan, serta dianggap lebih aman daripada rokok konvensional. Namun, persepsi ini jauh dari fakta ilmiah dan sangat berbahaya.
“Remaja menganggap vape sebagai alternatif yang lebih aman. Ini adalah ilusi yang berbahaya karena vape tetap mengandung nikotin yang menyebabkan kecanduan dan bahan kimia berbahaya yang merusak paru-paru dan jantung. Vape juga menjadi pintu masuk ke rokok konvensional,” tegasnya.
Menurutnya, masalah utama bukan pada vape itu sendiri, melainkan pada kurangnya literasi kesehatan di kalangan remaja dan lingkungan mereka. Lemahnya kontrol sosial, minimnya figur teladan, serta rendahnya ketahanan diri menjadi akar persoalan penyebaran kebiasaan ini.
“Vape hanyalah gejala, bukan akar masalah. Literasi kesehatan yang rendah serta lemahnya kontrol sosial dan ketahanan diri yang perlu menjadi fokus utama kita,” pungkas Nugroho.
Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur mendorong peningkatan edukasi dan kampanye anti-vape agar generasi muda dapat terhindar dari dampak negatif penggunaan zat berbahaya tersebut serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat dan perilaku bertanggung jawab. (DEVIANA//H)









