TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Di sebuah ruang kelas sederhana di SD Negeri Gunung Karasik, Kecamatan Awang, Kabupaten Barito Timur, suara anak-anak belajar berhitung terdengar bersahutan. Di sela kesibukan mengajar itu, seorang guru perempuan diam-diam menenun kecintaannya pada sastra lama yang nyaris tergerus zaman, pantun.

Ia adalah Nani Kurniani, guru sekolah dasar yang kini membawa nama Barito Timur menembus Festival Pantun ASEAN 2026, ajang sastra yang mempertemukan penulis dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

Bagi sebagian orang, pantun mungkin hanya dianggap hiburan lama yang sesekali muncul dalam acara adat atau perlombaan sekolah. Namun bagi Nani, pantun memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia melihat pantun sebagai cara masyarakat Melayu menjaga adab, menyampaikan nasihat, dan merawat hubungan antarmanusia lewat bahasa yang indah.

“Pantun itu bukan hanya sekadar permainan kata. Di dalamnya ada nilai budaya, sopan santun, dan pesan kehidupan yang diwariskan turun-temurun,” ucap Nani, Jumat, 8 Mei 2026.

Kecintaannya terhadap pantun tumbuh dari kegemarannya menulis. Sebagai guru di daerah pelosok, ia terbiasa memanfaatkan tulisan untuk menyampaikan gagasan dan memperkenalkan budaya kepada anak-anak didiknya. 

Ketika mengetahui adanya Festival Pantun ASEAN 2026 yang digelar SIP Publishing bersama Yayasan Rumah Indonesia Menulis, ia merasa terpanggil untuk ikut ambil bagian.

Bukan demi popularitas ataupun penghargaan semata, melainkan karena ada kegelisahan yang ia rasakan terhadap semakin jauhnya generasi muda dari sastra tradisional.

“Sekarang anak-anak lebih banyak mengenal budaya luar lewat media sosial. Kalau bukan kita yang mengenalkan kembali pantun, lama-lama budaya ini bisa terlupakan,” katanya.

Festival tersebut mengangkat tema “Ruang Rasa Ungkapan Yang Tak Terucap”, sebuah tema yang menurut Nani memberi ruang luas bagi peserta untuk mengekspresikan perasaan dan nilai persaudaraan antarsesama bangsa serumpun.

Melalui bait-bait pantun, para peserta diajak menyampaikan pesan tentang budaya, persahabatan, hingga kehidupan sosial dengan cara yang lembut dan berkesan.

Di tengah ratusan peserta dari berbagai negara ASEAN, karya Nani berhasil lolos kurasi dan masuk dalam antologi Pantun Serumpun Hati Berpaut bersama sekitar 200 penulis terpilih lainnya. 

Baginya, pencapaian itu menjadi bukti bahwa karya dari daerah pun mampu berbicara di panggung internasional.

Perjalanan Nani di dunia literasi sebenarnya bukan hal baru. Ia dikenal aktif menulis berbagai buku, mulai dari cerita anak, antologi puisi, hingga karya berbahasa Dayak Maanyan. Beberapa karyanya antara lain Aku Andri Tengaku, Kiko baya Pa’langi, Guru Superhero Masa Kini, hingga Kakanyau Telu Pangahengau: Petualangan Tiga Sekawan.

Meski telah menghasilkan banyak karya, Nani tetap menjalani kesehariannya sebagai guru dengan sederhana. Ia masih mengajar anak-anak di sekolah pelosok, memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media belajar, sambil terus menanamkan kecintaan terhadap membaca dan menulis.

Baginya, literasi dan budaya tidak boleh hanya hidup di kota-kota besar. Dari desa kecil seperti Gunung Karasik pun, karya dapat tumbuh dan menjangkau dunia.

“Saya berharap anak-anak di daerah juga percaya diri untuk berkarya. Jangan merasa berasal dari pelosok membuat kita tertinggal. Selama mau belajar dan terus mencoba, kesempatan itu selalu ada,” tuturnya.

Dari tangan seorang guru di pedalaman Barito Timur, pantun kembali menemukan jalannya untuk hidup. Bukan hanya di lembar buku, tetapi juga di hati generasi baru yang perlahan diajak mengenal akar budayanya sendiri. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)