BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP bersama Universitas Syiah Kuala terus mendorong hilirisasi sawit melalui pengembangan Beton Precast Foam Concrete berbasis biomassa kelapa sawit. Inovasi tersebut dinilai menjadi terobosan baru pemanfaatan limbah sawit menjadi material konstruksi yang ringan, kuat, dan ramah lingkungan.
Pengembangan beton ringan itu memanfaatkan turunan sawit seperti clinker boiler sebagai bahan substitusi dalam campuran foam concrete. Material tersebut dirancang untuk mendukung pembangunan modern yang lebih cepat dan efisien karena memiliki bobot lebih ringan dibanding beton konvensional.
Dalam rangka monitoring dan evaluasi program penelitian dan pengembangan tersebut, tim BPDP melakukan kunjungan lapangan ke fasilitas produksi di Lambaro, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh pada 5 Mei 2026.
Kunjungan dipimpin Prof. Ir. Didiek Hadjar Goenadi, M.Sc., Ph.D bersama tim BPDP untuk melihat langsung implementasi hasil riset yang telah masuk tahap industri.
“Pengembangan beton ringan berbasis sawit ini merupakan langkah nyata dalam meningkatkan nilai tambah komoditas sawit Indonesia. Sawit tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan energi, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai material konstruksi ramah lingkungan,” kata Prof Didiek dalam rilis BPDP pada Senin, 18 Mei 2026.
Ia menjelaskan, produk foam concrete berbasis sawit memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari bobot yang lebih ringan, efisiensi distribusi dan pemasangan, hingga kemampuan mendukung pembangunan cepat di berbagai wilayah.
“Karakteristik beton ringan ini sangat potensial untuk mendukung kebutuhan konstruksi modern, termasuk pembangunan rumah ramah gempa dan infrastruktur lainnya,” ujarnya.
Dalam proses produksinya, foam agent bermerek FoaMac dicampurkan dengan air menggunakan foam generator untuk menghasilkan busa dengan densitas terkontrol. Busa kemudian dicampurkan dengan semen, air, agregat halus, dan biomassa sawit menggunakan cement mixer hingga mencapai densitas sekitar 1,2–1,4 g/cm³.
Campuran tersebut lalu dituangkan ke dalam cetakan untuk membentuk bata foam maupun panel pracetak sebelum menjalani proses curing hingga mencapai kekuatan optimal.
Tim BPDP juga melakukan observasi menyeluruh terhadap alur produksi, mulai dari penyiapan bahan baku, pencampuran, pencetakan, hingga tahap curing.
Menurut Prof Didiek, program tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan industri mampu menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di lapangan.
“Program ini tidak berhenti pada hasil penelitian saja, tetapi telah berhasil diimplementasikan dalam skala industri. Ini menjadi contoh hilirisasi teknologi sawit yang konkret,” tegasnya.
Produk yang dihasilkan dari program tersebut meliputi bata foam, panel pracetak, penutup drainase, alas jembatan, hingga elemen konstruksi lainnya yang telah diaplikasikan pada berbagai proyek pembangunan. (TESTI PRISCILLA/y)









