BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan sumber daya manusia atau SDM perkebunan melalui kegiatan Sosialisasi Program Pendidikan Pengembangan SDM Perkebunan atau Beasiswa Sawit di daerah 3T yakni terdepan, terluar, dan tertinggal dalam rangka Pengarusutamaan Gender di Sorong, Papua Barat Daya.
Kegiatan yang berlangsung di Aston Sorong Hotel diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari pelajar SMA sederajat dan guru dari berbagai sekolah di Sorong, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan sektor perkebunan sawit.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa Program Beasiswa Sawit menjadi salah satu langkah strategis BPDP dalam menciptakan SDM unggul dan berdaya saing di sektor perkebunan nasional.
Menurutnya, program tersebut juga menjadi upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda di wilayah 3T agar memiliki kesempatan yang sama dalam meningkatkan kompetensi di sektor perkebunan sawit.
“Program ini diharapkan mampu melahirkan SDM perkebunan yang profesional sekaligus mendukung pembangunan sawit berkelanjutan di Indonesia,” kata Zaid dalam rilis BPDP pada Senin, 25 Mei 2026.
Pada sesi pemaparan materi, Kepala Divisi Pengembangan SDM BPDP, Sudi Bawa Suwita, menjelaskan secara menyeluruh mengenai Program Pendidikan Pengembangan SDM Perkebunan BPDP.
Ia memaparkan tujuan program, cakupan pembiayaan, persyaratan peserta, hingga manfaat program dalam mendukung regenerasi SDM sawit nasional. Program tersebut disebut menjadi salah satu instrumen penting dalam menyiapkan tenaga kerja perkebunan yang kompeten dan adaptif terhadap perkembangan industri.
Sementara itu, Sri Gunawan dari AKPY menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidikan di sektor sawit serta peluang besar yang tersedia bagi lulusan pendidikan perkebunan di masa mendatang.
Ia menilai industri sawit membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi, kemampuan adaptasi, serta pemahaman mengenai prinsip keberlanjutan untuk mendukung perkembangan sektor perkebunan Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Suparwati dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menjelaskan alur teknis pelaksanaan program beasiswa, mulai dari proses pendaftaran, tahapan seleksi, hingga mekanisme penetapan penerima Beasiswa Sawit.
BPDP menilai pendekatan berbasis gender menjadi bagian penting dalam pembangunan wilayah 3T, mengingat masih terdapat keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan dan kelompok rentan di sejumlah daerah. Karena itu, kegiatan sosialisasi diharapkan dapat memperluas jangkauan informasi program dan meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan tinggi di sektor perkebunan.
Hingga 2025, BPDP telah menyalurkan Beasiswa SDM Sawit kepada lebih dari 13.000 mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari mandat pengembangan SDM perkebunan nasional.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, BPDP berharap semakin banyak generasi muda dari Papua Barat Daya memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi dan berkontribusi dalam pembangunan sektor sawit Indonesia yang berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/H)









