BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Petani atau NTP Provinsi Kalimantan Tengah pada Juni 2026 tercatat sebesar 136,74 atau turun 2,13 persen dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 139,72. Penurunan ini dipicu melemahnya harga hasil pertanian yang diterima petani di tengah meningkatnya biaya produksi dan konsumsi rumah tangga petani.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, menjelaskan bahwa penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani atau It turun 1,25 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani atau Ib naik 0,90 persen.
"Turunnya NTP menunjukkan bahwa kenaikan pengeluaran petani tidak diimbangi dengan peningkatan harga hasil pertanian yang mereka jual," kata Maria dalam penyampaian berita resmi statistik pada Rabu, 1 Juli 2026.
Dari lima subsektor penyusun NTP, hanya subsektor hortikultura yang mengalami kenaikan, yakni sebesar 2,53 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas hortikultura.
Sebaliknya, empat subsektor lainnya mengalami penurunan. Penurunan terdalam terjadi pada subsektor peternakan sebesar 3,17 persen, disusul tanaman perkebunan rakyat 2,88 persen, tanaman pangan 0,97 persen, dan perikanan 0,26 persen.
"Penurunan NTP pada Juni terutama dipengaruhi oleh turunnya harga beberapa komoditas utama, seperti kelapa sawit, ayam ras pedaging, sapi potong, gabah, ketimun, dan kelapa," katanya lagi.
Di sisi lain, petani juga menghadapi kenaikan biaya akibat meningkatnya harga bensin, pupuk NPK, solar, oli, serta bawang merah dan bawang putih. Kondisi tersebut menyebabkan pengeluaran petani meningkat.
"Meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, NTP Kalimantan Tengah pada Juni 2026 masih berada di atas angka 100. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum pendapatan yang diterima petani dari hasil pertaniannya masih lebih besar dibandingkan pengeluaran yang harus dikeluarkan, sehingga daya beli petani masih relatif baik," kata Maria.
Menurut BPS, NTP di atas 100 mengindikasikan bahwa petani masih memperoleh surplus dari kegiatan usaha taninya. Meski demikian, tren penurunan pada Juni perlu menjadi perhatian karena menunjukkan adanya tekanan terhadap pendapatan petani di tengah kenaikan biaya produksi dan kebutuhan sehari-hari. (TESTI PRISCILLA/y)









