PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat sebanyak 3.852 kasus diare terjadi sepanjang Januari hingga Juli 2026. Meski peningkatannya tidak signifikan, kasus tersebut tetap menjadi perhatian serius karena telah menyebabkan satu balita meninggal dunia akibat terlambat mendapat penanganan.

"Untuk diare ada peningkatan walaupun tidak signifikan, tapi tetap kami waspadai. Karena berbandingan dengan beberapa waktu yang lalu agak lumayanlah. Diare kalau terlambat penolongan, kekurangan cairan, dehidrasi, bisa meninggal.," kata Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Nugroho Kuncoro Yudho, Selasa, 21 Juli 2026.

Ia menjelaskan, kasus kematian akibat diare tahun ini terjadi di Kecamatan Mentaya Hulu. Korban merupakan seorang balita yang meninggal sebelum memasuki musim kemarau.

Menurutnya, keterlambatan penanganan menjadi penyebab utama. Saat penderita mengalami diare, cairan tubuh keluar dengan cepat sehingga harus segera diganti. Jika penanganan terlambat, pasien akan mengalami dehidrasi berat yang sulit ditangani meski sudah mendapat infus.

"Tahun ini ada satu meninggal karena diare. Kasusnya di Mentaya Hulu. Kejadiannya sebelum musim kemarau. Karena keterlambatan penanganan. Diare ini sifatnya cepat. Kalau terlambat pemberian cairan akhirnya dehidrasi. Saat diinfus pun sudah tidak bisa tertolong karena cairan terus keluar," ujarnya.

Ia mengatakan, diare dapat menyerang semua kelompok usia. Namun, bayi dan balita menjadi kelompok paling rentan karena umumnya sulit menyampaikan keluhan, tidak mau makan, dan lebih cepat mengalami kekurangan cairan.

"Semua orang rentan terkena diare. Tetapi pada bayi dan balita lebih berbahaya karena biasanya kalau sakit mereka cenderung diam dan tidak mau makan," jelasnya.

Berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan, saat ini terdapat tiga kecamatan dengan kasus diare yang cukup tinggi, yakni Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Baamang, dan Cempaga.

Selain itu, wilayah selatan Kotim juga selalu menjadi daerah rawan diare ketika musim kemarau tiba. Menurut Nugroho, kondisi tersebut dipengaruhi terbatasnya ketersediaan air bersih. Sebagian besar masyarakat di wilayah selatan mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Saat musim kemarau, cadangan air hujan menipis, sementara intrusi air laut membuat air sungai menjadi asin sehingga tidak layak dikonsumsi.

"Kalau wilayah selatan memang setiap musim kemarau pasti rawan. Stok air bersih di sana lebih banyak mengandalkan air hujan. Saat kemarau persediaannya menipis, kemudian air laut naik sehingga kandungan garam masuk ke sungai," katanya.

Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat agar tidak menunda membawa anggota keluarga yang mengalami diare ke fasilitas kesehatan, terutama jika buang air besar cair terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu singkat. Selain itu, penderita harus segera diberikan cairan pengganti seperti oralit untuk mencegah dehidrasi.

"Kalau memang terjadi diare, bisa dilihat dulu kalau sampai dalam waktu berdekatan terjadi diare sampai tiga kali atau lebih, segera bawa ke fasilitas kesehatan. Yang kedua, setiap diare harus segera ada penggantian cairan. Jadi harus minum lebih banyak, baik itu minum oralit atau minum larutan gula garam," tegas Nugroho.

Dinkes Kotim juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan makanan, memastikan air minum yang dikonsumsi aman, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai langkah utama mencegah penyebaran penyakit diare, terutama selama musim kemarau. (DEWI PATMALASARI/Y)