NANGA BULIK –

BORNEONEWS, Nanga Bulik – Pemerintah Kabupaten Lamandau mendorong pengembangan Tradisi Maonjuan Sorah sebagai salah satu destinasi wisata berbasis budaya. Tradisi masyarakat Kecamatan Delang itu dinilai memiliki potensi untuk menarik kunjungan wisatawan sekaligus mendukung perekonomian masyarakat tanpa menghilangkan nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi Maonjuan Sorah diawali dengan prosesi hili lanting dari Riam Sedomboan menuju Desa Riam Panahan. Dalam prosesi tersebut, perwakilan 10 desa dan satu kelurahan membawa sosorahan atau hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh masyarakat.

Bupati Lamandau, Rizky Aditya Putra mengatakan tradisi tersebut tidak hanya menjadi bentuk ungkapan syukur, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dapat menjadi kekuatan daerah apabila terus dilestarikan dan dikembangkan.

"Maonjuan Sorah bukan sekadar tradisi tahunan. Kegiatan ini memiliki nilai budaya yang kuat dan berpotensi menjadi daya tarik wisata yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Bupati.

Menurutnya, pengembangan wisata budaya harus tetap berpijak pada pelestarian adat dan kearifan lokal. Dengan demikian, budaya yang diwariskan para leluhur tetap terjaga sekaligus dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat.

Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Pelestarian budaya juga diharapkan mampu memperkuat identitas Kabupaten Lamandau di tengah perkembangan zaman.

"Kami ingin tradisi ini terus diwariskan kepada generasi muda agar tetap lestari dan menjadi kebanggaan daerah," katanya.

Melalui pengembangan wisata berbasis budaya, Pemerintah Kabupaten Lamandau berharap Tradisi Maonjuan Sorah tidak hanya menjadi agenda tahunan masyarakat Delang, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. (NATALIA KRISTIN/H)