SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dikerahkan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyusul meningkatnya kejadian kebakaran di sejumlah wilayah.

"Personel kita mengerahkan kalau tidak salah sampai hari ini ada 78 orang. Hari ini 150 orang karena mewajibkan seluruh OPD ikut terlibat," kata Wakil Koordinator III Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim Rihel, Senin, 10 Agustus 2026.

Personel tambahan tersebut nantinya disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Mereka dapat ditempatkan secara bergiliran maupun tetap berada di lokasi tertentu selama penanganan kebakaran berlangsung.

Tak hanya jumlah personel, kekuatan peralatan pemadaman juga akan ditambah. Saat ini tim memiliki sekitar 15 unit peralatan yang digunakan untuk mendukung upaya pemadaman di berbagai titik.

Penambahan kekuatan tersebut dinilai diperlukan karena kebakaran terjadi dengan intensitas yang semakin tinggi dan muncul hampir bersamaan di sejumlah lokasi. Beberapa titik bahkan berada tidak jauh dari permukiman warga sehingga membutuhkan respons cepat.

Rihel mengakui proses pemadaman karhutla di lapangan tidak mudah. Selain persoalan keterbatasan sumber air, petugas harus menghadapi kondisi kabut asap yang cukup pekat.

"Pemadaman di lapangan tidak mudah. Selain keterbatasan sumber air, petugas juga harus bekerja dalam kondisi kabut asap yang cukup pekat," ungkapnya.

Menurutnya, asap menjadi salah satu kendala paling berat bagi personel yang bertugas. Arah angin yang berubah dapat membuat asap berkumpul di sekitar lokasi pemadaman dan mengganggu pernapasan petugas.

"Karena memang asap, karena arah angin, sehingga sesak napas bagi teman-teman. Tidak lama untuk menyiram, nanti balik lagi, kemudian berganti lagi," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat petugas tidak dapat bekerja terlalu lama di titik kebakaran. Sistem pergantian personel diperlukan agar proses pemadaman tetap berjalan sekaligus menjaga kondisi fisik petugas.

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat paparan asap selama bertugas, pihaknya juga berencana melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap personel yang terlibat dalam penanganan karhutla.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim per 7 Agustus 2026, tercatat sebanyak 203 kejadian karhutla di wilayah Kotim. Dari ratusan kejadian tersebut, total luas lahan yang terbakar telah mencapai lebih dari 356 hektare.

Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar, yakni mencapai lebih dari 88 hektare.

Sementara itu, jumlah titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Kotim juga cukup tinggi. Hingga saat ini tercatat lebih dari 1.053 hotspot yang tersebar di seluruh kecamatan.

Kecamatan Kota Besi menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 198 titik. (DEWI PATMALASARI/H)