PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, mencapai sekitar 15.076 kasus hingga minggu epidemiologi (M)  ke-38 atau M-38 tahun 2026.

Peningkatan kasus yang terjadi sejak akhir Juli hingga September menjadi perhatian di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, Jumat, 9 Oktober 2026 menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan, tren kasus ISPA mengalami peningkatan cukup signifikan pada periode M-29 hingga M-31.

Jumlah kasus meningkat dari 335 kasus pada M-28 menjadi 457 kasus pada M-29. Angka tersebut kembali naik menjadi 468 kasus pada M-30 dan mencapai puncak sebanyak 566 kasus pada M-31.

“Peningkatan kasus ISPA paling menonjol terjadi pada periode M-29 hingga M-31. Setelah mencapai puncak 566 kasus pada M-31, jumlah kasus mengalami penurunan, tetapi masih berfluktuasi pada tingkat yang relatif tinggi,” jelas Jhonferi Sidabalok.

Setelah mencapai puncak, kasus ISPA turun menjadi 422 kasus pada M-34. Namun, jumlahnya kembali meningkat menjadi 534 kasus pada M-35, sebelum berfluktuasi menjadi 471 kasus pada M-36, 503 kasus pada M-37, dan 487 kasus pada M-38.

Walaupun mengalami penurunan sekitar 3,2 persen dibandingkan minggu sebelumnya, jumlah kasus pada M-38 masih 45,4 persen lebih tinggi dibandingkan M-28. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tren penurunan kasus belum berlangsung secara konsisten.

Jhonferi Sidabalok menjelaskan, peningkatan kasus ISPA secara waktu beriringan dengan meningkatnya aktivitas karhutla selama musim kemarau di Kobar. Paparan asap dan partikel akibat kebakaran dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang berpotensi memengaruhi kesehatan saluran pernapasan.

“Paparan asap karhutla perlu menjadi perhatian karena dapat berkontribusi terhadap gangguan saluran pernapasan. Namun, peningkatan kasus ISPA tidak bisa langsung disimpulkan hanya disebabkan oleh karhutla, karena ada faktor lain yang juga memengaruhi,” jelas Jhonferi Sidabalok.

Faktor tersebut antara lain kualitas udara, kondisi cuaca, infeksi saluran pernapasan, mobilitas penduduk, aktivitas masyarakat, serta perilaku masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan.

Berdasarkan distribusi kasus selama M-1 hingga M-38, Puskesmas Sungai Rangit mencatat jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 2.703 kasus. Selanjutnya, Puskesmas Kumai mencatat 1.470 kasus, Puskesmas Madurejo 1.411 kasus, Puskesmas Karang Mulya 1.152 kasus, dan Puskesmas Mendawai sebanyak 1.059 kasus.

Lima fasilitas pelayanan kesehatan tersebut menyumbang sekitar 51,7 persen dari seluruh kasus ISPA yang tercatat selama periode pengamatan.

Menurut Jhonferi Sidabalok, data distribusi kasus perlu menjadi bahan evaluasi dalam penguatan pemantauan penyakit dan edukasi masyarakat. Namun, jumlah kasus di masing-masing wilayah juga perlu dilihat berdasarkan jumlah penduduk, cakupan pelayanan kesehatan, serta kelengkapan pencatatan dan pelaporan.

"Di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla, masyarakat diimbau mengurangi paparan asap, terutama ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai, pembatasan aktivitas di luar ruangan saat asap pekat, serta pemantauan kondisi kesehatan menjadi langkah yang perlu diperhatikan," jelas Jhonferi Sidabalok.

Menurut Jhonferi Sidabalok, masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan yang memburuk, seperti sesak napas, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta.

"Dinkes Kobar terus memantau perkembangan kasus ISPA untuk melihat kecenderungan pada minggu berikutnya. Pemantauan tersebut juga perlu dibandingkan dengan perkembangan karhutla, kualitas udara, dan kondisi cuaca guna mendukung analisis situasi kesehatan masyarakat di Kobar," jelas Jhonferi Sidabalok. (WAHYU KRIDA/H)