SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kasus penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare mengalami peningkatan di Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada puncak musim kemarau. Peningkatan tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kondisi sungai yang debit airnya mulai surut.

Camat Mentaya Hulu Edison mengatakan peningkatan pola penyakit tersebut diketahui setelah pihak kecamatan bersama Polsek Mentaya Hulu memantau kondisi kesehatan masyarakat dan berdiskusi dengan Puskesmas Kuala Kuayan.

"Saya bersama Polsek Mentaya Hulu melihat pola penyakit yang terjadi selama musim kemarau ini. Jadi kita dengar dari yang disampaikan oleh Kepala Puskesmas tadi, setiap bulan artinya mulai dari Agustus sampai September ini semakin meningkat pola penyakit terutama diare," kata Edison, Senin, 7 September 2026.

Kasus diare di Mentaya Hulu diduga berkaitan dengan kebiasaan sebagian masyarakat yang masih menggunakan sungai untuk aktivitas mandi. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena terdapat dugaan pencemaran sungai akibat aktivitas menangkap ikan menggunakan racun maupun setrum.

"Terkait diare kalau kita lihat yang terdampak adalah mereka yang mandi di sungai. Karena sungai tercemar akibat ikan-ikan mati karena diracun dan disetrum. Dan ISPA kemarin sempat penuh dirawat inap karena asap karhutla," ujarnya.

Kepala Puskesmas Kuala Kuayan Fitri mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi ke sejumlah desa untuk mencegah masyarakat, khususnya anak-anak, menggunakan sungai sebagai tempat mandi.

"Selama ini kita sudah melakukan sosialisasi ke desa-desa untuk menghimbau setidaknya jangan sampai anak-anak kita itu mandi di sungai untuk cegah diare," katanya.

Selain diare, ISPA menjadi penyakit yang banyak ditemukan pada awal September. Puskesmas mengaitkan peningkatan ISPA dengan kondisi udara yang terpapar asap karhutla.

"Jadi selama ini penyakit yang ada di awal-awal September itu kebanyakan penyakit diare sama ISPA. Dan kita telusuri penyakit diare itu kebanyakan mereka itu mandi di sungai. Kalau ISPA kita tahu sendiri tentu dari karutla, dari asap," jelas Fitri.

Untuk mencegah gangguan pernapasan, pihak puskesmas juga memberikan edukasi kepada anak-anak di sekolah. Salah satunya melalui kegiatan cek kesehatan gratis (CKG) di sekolah yang diselimgi sosialisasi pentingnya penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan. 

"Untuk ISPA kita menghimbau di sekolah biasanya saat kita melakukan CKG. Untuk anak-anak itu agar pakai masker," tambahnya.

Sejauh ini, pasien diare dan ISPA masih dapat ditangani di Puskesmas Kuala Kuayan. Pasien mendapatkan perawatan hingga kondisinya membaik sebelum diperbolehkan pulang.

"Penanganannya selama ini kita tangani di puskesma saja. Belum sampai lagi kita merujuk ke rumah sakit," tandasnya. 

Wakapolsek Mentaya Hulu Ipda Zet Heriyanto mengatakan penanganan karhutla juga terus dilakukan untuk menekan dampak asap terhadap masyarakat.

Menurutnya, pihak kepolisian telah melakukan berbagai langkah, termasuk memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan.

"Yang ini sedang kami upayakan untuk kami cari pelakunya. Sesuai arahan pimpinan untuk dilakukan proses sesuai dengan ketentuan hukum bagi pelaku pembakar hutan dan lahan. Juga ada peningkatan Hotspot di Mentaya Hulu sudah di atas 20 rata-rata tiap hari," ujar Zet.

Titik panas tersebut tersebar di sejumlah desa. Kepolisian bersama pihak terkait terus melakukan upaya penanganan terhadap karhutla sekaligus mencari pihak yang diduga sengaja melakukan pembakaran.

Selain karhutla, kepolisian juga menyoroti aktivitas penangkapan ikan menggunakan racun dan setrum yang dinilai berpotensi memengaruhi kondisi air sungai.

"Terutama untuk yang meracun ikan dan pelaku penyetrum ikan. Mungkin juga memohon bantuan dan informasi dari warga. Apabila ada melihat, mengetahui pelaku-pelaku tersebut Pada saat melakukan kegiatan-kegiatan yang di tempat tertentu, bisa disampaikan," ujar Zet.

Ia mengatakan kondisi sungai yang debitnya menyusut membuat air lebih mudah terakumulasi di satu kawasan dan sulit mengalir. Karena itu, dugaan pencemaran akibat aktivitas meracun dan menyetrum ikan perlu dicegah.

Sementara itu, Lurah Kuala Kuayan Dadang Arianto mengatakan, pemerintah kelurahan bersama masyarakat juga menyiapkan langkah menghadapi ancaman karhutla.

Masyarakat Peduli Api disiapkan di setiap RT. Warga diimbau menyediakan sumber air dan peralatan pemadaman sederhana untuk mengantisipasi kebakaran.

"Yang pertama masalah karhutla di daerah Kuala kuayan kita sudah menyiapkan masyarakat peduli api. Setiap RT kita imbau untuk menyiapkan air atau tong-tong. Yang jelas beberapa RT juga sudah menyiapkan mesin genset dan selang tetapi sebagian RT ada juga yang masih belum," katanya.

Kebakaran sempat terjadi di wilayah Kelurahan Kuala Kuayan. Pemadaman dilakukan bersama dengan melibatkan pihak kecamatan, perusahaan dan kepolisian. Saat ini api disebut mulai berhasil dikendalikan.

Terkait aktivitas meracun dan menyetrum ikan, pemerintah kelurahan juga telah berulang kali menyampaikan larangan kepada masyarakat.

"Terkait masalah air himbauan kami kepada masyarakat jangan sampai menyetrum atau meracun ikan lagi. Sudah berulang kali kita lakukan himbauan dan aturan sudah nyata ada. Tetapi masih ada oknum-oknum yang sulit kita cari karena mereka sembunyi-sembunyi," ujar Dadang.

Sementara untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih, pihak Kelurahan Kuala Kuayan telah berkoordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

"Terkait masalah air bersih kita sudah koordinasi dengan PDAM kemarin merencanakan untuk menyuplai air-air untuk masyarakat yang membutuhkan air bersih," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)