BORNEONEWS, Palangka Raya - Air Susu Ibu (ASI) merupakan asupan makanan utama untuk bayi sejak lahir sampai dengan usia 6 bulan. Selama waktu itu, bayi tidak dianjurkan untuk memakan makanan maupun susu formula selain ASI.
Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Anak RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya, dr Rurin di ruang Poli Anak, RSUD dr Doris Sylvanus, Sabtu (21/1/2017).
Lantas, bagaimana jika sang ibu dalam kondisi kecanduan narkoba? Kasus ini seperti yang menimpa bayi berusia 5 bulan. Dia terpapar sabu lantaran ibunya pecandu narkoba. Padahal, posisi itu sang itu masih menyusui si bayi tersebut. Terjerumusnya ibu berinisial RI (22 tahun) ini setelah memperoleh sabu dari suaminya M Denny Hidayat (33).
Menurut Rurin, dampak buruk sabu terhadap bayi sama halnya dengan dampak pecandu orang dewasa. Bayi pun dapat kecanduan. Selain itu juga merusak organ tubuh dan menyerang saraf.
"Efeknya kurang lebih sama. Pada anak, akan susah makan, susah tidur dan tentunya rewel. Intinya sangat tidak baik kalau balita terpapar sabu," jelasnya.
Yang dikhawatirkan adalah ketika proses terpaparnya sabu saat sang ibu sedang hamil. Hal ini dapat menimbulkan kecacatan terhadap buah hati. "Kalau bayi masih dalam kandungan, efeknya lebih berat dibanding sudah diluar. Ada zat atau bahan yang bisa menimbulkan kecacatan. Karena terpaparnya mulai dari pembentukan organ tubuh, penyempurnaan, sampai bayi lahir," tuntasnya.
Ditambahkan Rurin, makanan utama bayi adalah ASI hingga berusia enam bulan. "Jadi bayi jangan mengonsumsi apapun selain ASI sampai dengan usia 6 bulan," ucap Rurin.
Dia menuturkan, ASI sangat penting untuk tumbuh kembang bayi dibanding dengan susu formula maupun jenis susu kaleng lainnya. "Zat gizi dalam kandungan ASI itu 100 persen sesuai kebutuhan bayi. Baru nanti setelah enam bulan perlu makanan pendamping," ungkapnya.
ASI, lanjut dia, juga mengandung zat kekebalan tubuh dan anti bakteri sehingga ASI memang wajib diberikan kepada bayi apabila tidak ada kontradiksi dari ibunya. Dengan menyusui, hubungan kedekatan ibu dengan bayi juga semakin erat.
"Takarannya juga sesuai, tidak takut kekurangan atau kelebihan. Juga higenis dan tidak perlu cuci botol. Memang ada obat-obat tertentu yang tidak boleh ibu menyusui atau kondisi tertentu si ibu, sehingga tidak menyusui bayi," ungkapnya.
"Susu formula dibuat sedemikian menyerupai ASI, tetapi tentu saja tidak bisa 100 persen seperti ASI. Kemudian susu formula biasa terbuat dari susu sapi. Kadang ada yang tidak cocok sehingga muncul gejala alergi, kulit merah, diare dan lain-lain," bebernya.
Banyak atau tidaknya ASI juga tergantung dari besarnya gizi yang dimakan sang ibu. Jika sang ibu kekurangan gizi, tentu saja bayinya juga akan kekurangan. (BUDI YULIANTO/B-11)








