SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) tengah menyusun Peraturan Bupati (Perbup) untuk memberikan beasiswa ikatan dinas bagi dokter spesialis. Langkah ini diharapkan dapat mengatasi kekurangan dokter spesialis di rumah sakit dan puskesmas di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, menjelaskan masalah utama pelayanan kesehatan di Kotim, khususnya di RSUD Dr. Murjani Sampit, adalah penumpukan pasien.

emkab Kotim juga telah membangun Rumah Sakit Samuda dan rumah sakit Parenggean dengan harapan bisa mengurangi penumpukan pasien di RSUD Murjani. Namun, kebijakan BPJS Kesehatan yang digratiskan pemerintah justru menyebabkan peningkatan kunjungan pasien.

"Kami harus mencari cara untuk mengurai penumpukan ini, terutama karena kami masih kekurangan dokter spesialis di Samuda dan Parenggean," kata Umar, Jumat, 18 Oktober 2024.

Menurutnya, pernah ada dokter spesialis kandungan (obgyn) dan penyakit dalam yang ditempatkan, tetapi mereka tidak bertahan lama dan memilih pindah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkab Kotim dalam menjaga ketersediaan tenaga medis spesialis.

Untuk memastikan keberlanjutan pelayanan kesehatan, Umar menyebutkan Pemkab Kotim sedang merancang Perbup agar bisa memberikan beasiswa dengan ikatan dinas selama 15 tahun bagi putra-putri daerah yang ingin menjadi dokter spesialis.

"Anggaran yang disiapkan mencapai Rp400 juta per penerima hingga mereka menyelesaikan pendidikan spesialis. Saat ini, rancangan Perbup tersebut masih dalam tahap pembahasan di bagian hukum," ungkapnya.

Selain upaya peningkatan jumlah tenaga medis, Pemkab Kotim juga melakukan kajian terkait kelayakan pelayanan kesehatan. Umar memaparkan bahwa seorang dokter spesialis di RSUD Murjani rata-rata melayani satu pasien dalam waktu 10 menit, yang artinya satu dokter hanya mampu menangani 30 pasien per hari.

"ASN bekerja 7 jam sehari, dan dengan alokasi waktu 10 menit per pasien. Ini belum termasuk waktu untuk tindakan medis dan penginputan data. Sehingga1 dokter diperkirakan maksimal menangani 30 pasien sehari," tambahnya.

Kajian ini diharapkan dapat menjadi landasan untuk merumuskan strategi peningkatan pelayanan kesehatan di Kotim, baik melalui pembangunan fasilitas kesehatan maupun penambahan tenaga medis di puskesmas dan rumah sakit.

Dengan langkah-langkah tersebut, Pemkab Kotim berharap dapat memberikan solusi jangka panjang bagi peningkatan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah dan memastikan bahwa warga mendapatkan akses layanan kesehatan berkualitas. (DEWI PATMALASARI/H)