BORNEONEWS, Sampit – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan ketersediaan sembilan bahan pokok (sembako) dalam kondisi aman. Hal ini disampaikan oleh Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kotim, Sanggul Lumban Gaol, usai rapat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Senin, 16 Desember 2024.
“Alhamdulillah, hasil rapat menunjukkan inflasi daerah kita cenderung stabil di akhir tahun. Stok sembako aman, termasuk pasokan dari Bulog dan dinas pertanian dan ketahanan pangan. Kami terus memantau potensi gejolak harga yang mungkin terjadi serta dampak cuaca ekstrem yang bisa memengaruhi distribusi,” ujar Sanggul.
Berdasarkan proyeksi neraca bahan pokok pangan, Kabupaten Kotim memiliki ketersediaan stok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Nataru. Berikut adalah data ketersediaan dan ketahanan beberapa komoditas utama:
1. Beras: Ketersediaan 8.839 ton, kebutuhan 3.779 ton, neraca 5.060 ton (ketahanan stok 241 hari).
2. Jagung: Ketersediaan 1.180 ton, kebutuhan 24 ton, neraca 1.156 ton (ketahanan stok 761 hari).
3. Bawang Merah: Ketersediaan 328 ton, kebutuhan 117 ton, neraca 211 ton (ketahanan stok 96 hari).
4. Bawang Putih: Ketersediaan 1.220 ton, kebutuhan 93 ton, neraca 1.127 ton (ketahanan stok 105 hari).
5. Cabai Rawit: Ketersediaan 220 ton, kebutuhan 111 ton, neraca 109 ton (ketahanan stok 26 hari).
6. Daging Sapi: Ketersediaan 9.596 ton, kebutuhan 5 ton, neraca 9.591 ton (ketahanan stok 7.884 hari).
--page
7. Ayam: Ketersediaan 2.750 ton, kebutuhan 531 ton, neraca 2.219 ton (ketahanan stok 42 hari).
8. Gula: Ketersediaan 550 ton, kebutuhan 393 ton, neraca 157 ton (ketahanan stok 267 hari).
9. Minyak Goreng: Ketersediaan 40.362 ton, kebutuhan 413 ton, neraca 39.949 ton (ketahanan stok 2.986 hari).
Komoditas lain, seperti telur, cabai besar, dan kedelai, juga tersedia dengan ketahanan stok yang mencukupi hingga periode akhir tahun.
Namun, Sanggul mengingatkan distribusi sembako sangat bergantung pada pasokan dari Pulau Jawa, yang rentan terhadap cuaca ekstrem. Oleh karena itu, TPID terus memantau situasi cuaca serta fluktuasi harga di pasar. (DEWI PATMALASARI/Y)









