SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan ketersediaan bahan pokok khususnya beras aman hingga Maret 2025. Hal ini disampaikan oleh Wakil Bupati Kotim Irawati saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama tim gabungan ke gudang Bulog, distributor swasta, dan Pasar PPM Sampit, Selasa, 24 Desember 2024.

"Alhamdulillah, hari ini kami bersama tim gabungan melakukan sidak untuk melihat ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok," kata Irawati. 

Sidak tersebut bertujuan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok di Kotim aman, terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Bahkan, stok bahan pangan cukup hingga Maret 2025.

Sementara itu, Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Kotim Muhammad Azwar Fuad mengatakan, stok cadangan beras pemerintah (CBP) saat ini mencapai 2.400 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama lima bulan ke depan.

"Ini ketahanan stoknya rata-rata cukup untuk 5 bulan kedepan. Kalau hanya untuk tahun baru atau hari besar Natal masih aman. Stok pun masih bergerak atau masih bisa bertambah karena kita masih menyerap beras lokal dari Pagatan dan juga ada tambahan beras dari Bulog Jakarta," kata Fuad.

Selain beras, Bulog juga memiliki stok gula pasir sebanyak 20 ton, daging beku 5 ton, dan minyak goreng sekitar 2.500 liter. Stok ini akan didistribusikan untuk kebutuhan masyarakat melalui penjualan di pasar umum.

Fuad menjelaskan, beras medium CBP dijual melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dapat dibeli masyarakat melalui mitra-mitra Rumah Pangan Kita (RPK) Perum Bulog dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp13.100/kg. Sedangkan untuk kemasan 5 kg, harga HET Rp65.500 per karung.

"Prinsipnya, dengan stok yang melimpah, masyarakat tidak perlu khawatir atau memborong beras secara berlebihan. Suplai Bulog dan distributor di pasar umum sangat baik, dengan harga relatif stabil. Selain itu, program bantuan beras untuk masyarakat miskin tetap berjalan, menunjukkan keberpihakan pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)