BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) mempersiapkan program tanam jagung serentak di seluruh desa sebagai tindak lanjut instruksi Presiden RI Prabowo Subianto.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, setiap desa ditargetkan menyiapkan lahan seluas 50 hingga 100 hektare untuk program ini. Dengan total 168 desa dan 17 kelurahan, diharapkan luas tanam jagung mencapai 23.217 hektare.
“Kita menargetkan masing-masing desa menyiapkan 50 hingga 100 hektare untuk tanam jagung, yakni dari 168 desa dan 17 kelurahan yang ada di Kotim, target kita dapat mencapai 23.217 hektare tanam jagung,” kata Halikinnor, Rabu, 15 Januari 2025.
Ia menegaskan, hasil panen akan diserap oleh pemerintah melalui Bulog dengan harga yang menguntungkan. Dengan jaminan ini, masyarakat diharapkan tidak ragu untuk berpartisipasi dalam program tersebut.
Halikinnor juga menekankan bahwa pembukaan lahan harus dilakukan tanpa pembakaran. Pemerintah telah menyediakan ekskavator di setiap kecamatan, dan perusahaan besar swasta (PBS) diminta membantu pengadaan alat berat.
“Sehingga penyiapan lahan jagung ini tidak menimbulkan masalah lain. Program ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo, sehingga anggarannya pun tentu sudah disiapkan,” ujarnya.
Kapolres Kotim, AKBP Resky Maulana Zulkarnain, menyatakan bahwa lahan tanam jagung harus bebas dari ruang terbuka hijau (RTH). Ia juga menjelaskan penggunaan aplikasi untuk mempermudah pengelolaan program oleh kelompok tani.
“Dalam realisasinya nanti juga akan ada aplikasi yang akan diisi langsung oleh kelompok tani. Kami hanya memfasilitasi untuk menyukseskan program ini,” kata Resky.
Tanam jagung serentak ini menjadi bagian dari upaya Polri mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan ketahanan pangan. Program ini dirancang untuk memanfaatkan lahan perkebunan dan lahan kering di berbagai wilayah dengan target nasional sebesar 1,7 juta hektare.
“Program ini diharapkan dapat menghasilkan tambahan produksi jagung sebesar 4 juta ton, yang akan meningkatkan produksi nasional hingga 25 persen dibandingkan kondisi saat ini,” tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









