BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) meminta PT Agro Wana Lestari (AWL) untuk segera menuntaskan kewajiban plasma 20 persen bagi masyarakat Desa Tumbang Penyahuan, Kecamatan Bukit Santuai.
"Kami melakukan mediasi antara koperasi Santui Jaya di Tumbang Penyahuan dengan PT AWL terkait kewajiban plasma 20 plasma yang menjadi hak masyarakat. Dari total luas area tanam sekitar 3.467,77 hektare, seharusnya plasmanya sekitar 693,55 hektare. Namun, yang telah diserahkan baru 183,1 hektare. Kami ingin sisa plasma ini segera diselesaikan sebelum akhir tahun," kata Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Kotim, Sanggul Lumban Gaol, saat memimpin rapat fasilitasi, Rabu, 5 Januari 2025.
Rapat fasilitasi tersebut dihadiri oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Forkopimda, Instansi Vertikal, Koperasi Santuai Jaya, dan PT Agro Wana Lestari (AWL).
Dalam pertemuan itu, PT AWL menyatakan komitmennya untuk memenuhi sisa kewajiban plasma melalui koperasi masing-masing desa. Khusus bagi koperasi Santui Jaya seluas 510,55 hektare.
Pemkab Kotim akan melakukan desk dengan PT AWL guna menentukan waktu dan lokasi pasti pemenuhan sisa kewajiban ini. Perusahaan diberikan waktu hingga akhir tahun 2025 untuk merealisasikan plasma. Jika PT AWL tidak segera menuntaskan kewajiban plasmanya, Pemkab Kotim siap mengambil langkah tegas.
--page
"Jika mereka tidak menyelesaikan kewajiban ini, kami akan bersurat ke Kementerian Pertanian dan Perkebunan untuk meminta sanksi, termasuk pencabutan izin usaha perkebunan (IUP)," tegas Sanggul.
Menurutnya, sudah dilakukan mediasi berkali-kali dalam beberapa tahun terakhir, baik di tingkat kecamatan maupun desa, namun belum membuahkan hasil. Padahal usia tanam sudah sangat tua sekitar 15 tahun sehingga menyisakan 8 tahun efektif.
Saat ini, masyarakat hanya menerima hasil sekitar Rp300.000 per tiga bulan, atau Rp100.000 per bulan, dari kebun plasma yang telah diserahkan.
"Kami sangat prihatin dengan kondisi ini, dan kami akan memastikan bahwa kewajiban plasma bisa segera direalisasikan," pungkas Sanggul. (DEWI PATMALASARI/Y)









