SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) menggandeng Nusa Suriamas Group dari Kuala Lumpur, Malaysia untuk membangun pabrik pengolahan limbah medis di Kawasan Industri Desa Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Pembangunan ini menjadi angin segar setelah sempat terkendala masalah lahan dan perizinan.

Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan bahwa lokasi awal yang disiapkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Km 14 Jalan Jenderal Sudirman, Sampit, tidak disetujui karena berada di luar kawasan industri yang disyaratkan pemerintah pusat.

"Kami sempat terkendala perizinan dan lokasi di TPA bukan kawasan industri. Setelah mencari, akhirnya kami siapkan lahan yang masuk kawasan industri di Bagendang," kata Halikinnor, Rabu, 5 Maret 2025.

Sebelumnya, Pemkab Kotim melalui BUMD Hapakat Betang Mandiri bekerja sama dengan PT Bumi Resik Nusantara untuk pembangunan pabrik limbah medis. Bahkan peletakan batu pertama telah dilakukan pada 15 Mei 2024. Namun, proyek tersebut terhenti karena masalah perizinan dan lokasi yang tidak sesuai aturan tata ruang.

Kini, kerja sama dengan Nusa Suriamas Group membuka peluang besar untuk mewujudkan pabrik limbah medis pertama di Kalimantan Tengah.

--page

"Melihat paparan mereka, kami yakin mereka punya kesungguhan dan pengalaman. Bahkan ke depan juga akan dikembangkan untuk mengelola limbah rumah tangga, yang selama ini menjadi masalah di Kotim," tambahnya. 

Pabrik ini direncanakan rampung dalam 12 bulan dan mulai beroperasi awal 2026. Pemkab Kotim telah menyiapkan lahan lebih dari 4 hektare di Kawasan Industri Desa Bagendang, meskipun pembangunan pabrik hanya memerlukan area seluas 4.000 meter persegi.

"Karena tanah sudah tersedia dan sesuai tata ruang, kami optimistis mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Ini sejalan dengan Instruksi Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya kebersihan dan pengelolaan limbah," pungkas Halikinnor.

Pembangunan pabrik ini diharapkan menjadi solusi pengelolaan limbah medis yang aman untuk Kalimantan Tengah. (DEWI PATMALASARI/Y)