BORNEONEWS, Palangka Raya - Berdasarkan pemantauan harga-harga di daerah perdesaan, Nilai Tukar Petani atau NTP gabungan di Kalimantan Tengah pada Februari 2025 mencapai 135,13, meningkat sebesar 1,01 persen dibandingkan dengan Januari 2025 yang berada di angka 133,78.
"Peningkatan ini terutama disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian atau It, sementara indeks harga yang dibayar petani atau Ib mengalami penurunan. Penurunan Ib tersebut didominasi oleh penurunan salah satu indeks penyusunnya, yaitu indeks kelompok konsumsi rumah tangga petani atau IKRT," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti pada Kamis, 13 Maret 2025.
Kenaikan NTP pada Februari 2025 di Kalimantan Tengah menunjukkan adanya perkembangan positif di sektor pertanian, meskipun terjadi penurunan pada beberapa indeks lainnya. Peningkatan NTP ini merupakan indikator bahwa daya beli petani mengalami peningkatan, meskipun biaya produksi yang dibayar petani mengalami sedikit penurunan. Hal ini tentunya memberikan harapan bagi para petani di Kalimantan Tengah untuk terus meningkatkan hasil produksinya.
"Secara rinci, kenaikan NTP pada Februari 2025 disebabkan oleh peningkatan NTP pada beberapa subsektor, yaitu Tanaman Pangan yang naik sebesar 0,30 persen, Hortikultura naik sebesar 2,46 persen, dan Tanaman Perkebunan Rakyat naik sebesar 1,52 persen," tutur Agnes lagi.
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa subsektor-sektor ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kenaikan NTP secara keseluruhan.
"Kenaikan NTP pada subsektor Hortikultura yang mencapai 2,46 persen merupakan kenaikan terbesar di antara subsektor lainnya," katanya.
Hal ini menunjukkan bahwa hortikultura memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian daerah. Diikuti oleh Tanaman Perkebunan Rakyat yang juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 1,52 persen.
"Sementara itu, penurunan indeks harga yang dibayar petani atau Ib didominasi oleh penurunan salah satu indeks penyusunnya, yaitu indeks kelompok konsumsi rumah tangga petani arau KRT," jelasnya.
Penurunan ini menunjukkan bahwa petani mengeluarkan biaya lebih sedikit untuk keperluan rumah tangga mereka, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. (TESTI PRISCILLA/H)









