PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, melaporkan bahwa nilai impor Kalimantan Tengah selama bulan Februari 2025 mengalami penurunan signifikan.

"Nilai impor tercatat sebesar US$1,65 juta, turun hingga 60,53 persen dibandingkan Januari 2025 yang mencapai US$4,18 juta," kata Agnes pada Kamis, 17 April 2025.

Selain itu, katanya, volume impor juga mengalami penurunan drastis sebesar 84,04 persen, dari 9,46 ribu ton di bulan sebelumnya menjadi hanya 1,51 ribu ton pada Februari.

Menurut Agnes, penurunan nilai impor terjadi baik di sektor migas maupun non-migas. Di sektor migas, penurunan mencapai US$1,41 juta atau 66,51 persen.

"Pada bulan Januari, sektor ini mencatatkan nilai impor sebesar US$2,12 juta, namun turun menjadi US$0,71 juta pada Februari. Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya impor pada kelompok komoditas bahan bakar mineral," terangnya.

Sektor non-migas juga mengalami penurunan signifikan sebesar US$1,12 juta, atau turun 54,37 persen. Agnes menyebutkan bahwa nilai impor sektor ini menurun dari US$2,06 juta di bulan Januari menjadi US$0,94 juta di bulan Februari.

"Penurunan ini terjadi pada berbagai kelompok komoditas, termasuk pupuk, mesin dan peralatan listrik, serta bahan kimia organik," katanya.

Agnes menjelaskan bahwa dinamika perdagangan internasional serta fluktuasi kebutuhan industri menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penurunan tersebut. Selain itu, perubahan strategi impor dari pelaku usaha lokal juga berkontribusi terhadap perubahan data ini.

BPS Kalimantan Tengah terus memantau perkembangan nilai impor sebagai salah satu indikator penting ekonomi daerah.

"Data ini menjadi dasar penting dalam perencanaan ekonomi untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri lokal dan dampak global," terang Agnes.

Sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan transparansi dan efektivitas ekonomi, BPS Kalimantan Tengah berkomitmen untuk terus menyediakan data yang akurat dan informatif bagi masyarakat dan pelaku usaha. Data impor diharapkan dapat menjadi acuan untuk meningkatkan daya saing regional. (TESTI PRISCILLA/H)