BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus berupaya menekan angka stunting. Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, mengungkapkan berbagai strategi yang diterapkan dengan harapan angka stunting berada di bawah 20 persen.
"Upaya kita memberikan makanan tambahan di semua wilayah Kotim. Namun, karena keterbatasan anggaran, penyalurannya masih bertahap dan belum merata," ujar Kaderi, Jumat, 23 Mei 2025.
Selain, makanan tambahan berbagai program dibuat untuk dengan bantuan pihak ketiga seperti Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan besar swasta (PBS) dan perbankan di wilayah setempat.
"Kemudian, kita juga punya program makanan khusus untuk bayi berisiko stunting," tambahnya.
Makanan tambahan tersebut, lanjut Kaderi, berisi sayuran, ikan, dan nasi dengan gizi yang lebih terjaga. Menurutnya, dengan terpenuhinya gizi anak dapat mencegah dan mengatasi stunting.
--page
Pasalnya, stunting, atau kondisi gagal tumbuh, disebabkan oleh kekurangan gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak.
Memberikan nutrisi yang cukup dan seimbang sejak awal kehidupan sangat penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan optimal bayi, sehingga mencegah terjadinya stunting
"Kami berharap dengan upaya-upaya kita tersebut angka stunting di Kotim dapat turun. Target stunting sesuai arahan pimpinan adalah di bawah 20 persen," ucapnya.
Angka stunting di Kotim sebelumnya cukup tinggi, mencapai 48 persen. Namun, angka tersebut berangsur-angsur turun. Pada tahun 2023, kasus stunting di Kotim sudah berada di 35,5 persen.
Ia berharap, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 menunjukkan angka stunting di bawah 20 persen.
"Kalau sampai mencapai itu, berarti upaya bersama instansi terkait membuahkan hasil," harapnya.
Kaderi menambahkan, dalam penanganan stunting, pihaknya selalu berkoordinasi dengan dinas terkait, seperti Dinas Pertanian, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPPPAPKB), dan lainnya. Kerjasama lintas sektor ini dinilai krusial dalam percepatan penurunan angka stunting di Kotim. (DEVIANA/Y)









