PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Petani atau NTP gabungan Provinsi Kalimantan Tengah pada Mei 2025 tercatat naik sebesar 0,10 persen menjadi 134,29 dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 134,15.

Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa kenaikan ini menunjukkan perbaikan kecil dalam daya beli petani terhadap barang dan jasa, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun produksi.

"Kenaikan NTP ini disebabkan oleh meningkatnya indeks harga yang diterima petani (It), sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) justru mengalami penurunan," kata Agnes pada Rabu, 11 Juni 2025.

Ia menambahkan bahwa penurunan Ib utamanya didorong oleh turunnya indeks kelompok konsumsi rumah tangga petani atau KRT, yang menjadi komponen besar dalam pengeluaran petani di perdesaan.

Lebih lanjut, kenaikan NTP pada Mei 2025 disumbang oleh perbaikan pada beberapa subsektor pertanian. Subsektor peternakan mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,20 persen, diikuti oleh Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,36 persen, Tanaman Pangan sebesar 0,24 persen, dan Perikanan sebesar 0,19 persen.

"Kondisi ini menunjukkan adanya pergerakan positif dalam harga jual hasil petani di beberapa subsektor," terang Agnes.

--page

Agnes menyebutkan, meskipun kenaikannya tergolong tipis, NTP Kalimantan Tengah tetap menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Kalimantan yang mencatatkan peningkatan pada Mei 2025. Di saat yang sama, provinsi lain seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur justru mengalami penurunan nilai tukar petani.

Penurunan indeks harga konsumsi rumah tangga menjadi salah satu indikator penting yang mendorong perbaikan NTP secara keseluruhan. Hal ini terutama terlihat dari turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

"Turunnya pengeluaran rumah tangga petani berarti daya beli mereka membaik relatif terhadap pengeluaran," ujar Agnes.

Dengan tren positif ini, BPS Kalimantan Tengah berharap kondisi perekonomian petani bisa terus membaik dalam beberapa bulan ke depan.
“Namun demikian, kita tetap perlu memantau fluktuasi harga komoditas utama agar keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran petani tetap terjaga,” pungkas Agnes. (TESTI PRISCILLA/Y)