SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) meluncurkan Desa Bagendang Tengah sebagai Desa Siaga Stunting, sebagai bagian dari komitmen menurunkan angka stunting di wilayah tersebut.

"Kita melaunching desa siaga stunting harapnya agar penurunan stunting lebih cepat dan anak-anak kita siap untuk menggapai Indonesia emas 2045," kata Bupati Kotim Halikinnor, Jumat, 13 Juni 2025.

Peluncuran desa siaga stunting tersebut dilaksanakan dalam kegiatan advokasi, koordinasi, dan bimbingan teknis (Bimtek) Pokjanal Posyandu yang berlangsung di Aquarius Boutique Hotel Sampit belum lama ini.

Halikinnor mengatakan, Kotim wilayah dengan angka stunting cukup tinggi. Merujuk pada data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting Kotim 35,5 persen. Oleh karena itu dirinya mengajak semua pihak baik pemerintah, dunia usaha dan masyarakat bekerjasama menurunkan angka stunting. 

Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, menyampaikan program Desa Siaga Stunting merupaka terobosan baru untuk menekan angka stunting. Program tersebut menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat desa secara langsung.

--page

“Desa siaga ini kita dorong agar masyarakat aktif. Pemerintah hanya sebagai pendamping, penyuluh, dan evaluator. Untuk Program Makanan Tambahan (PMT), masyarakat yang masak dan membagikan sendiri,” kata Umar.

Pihaknya juga melibatkan pihak swasta melalui CSR dalam upaya penanggulangan stunting. Hingga kini sudah ada 7 mitra perusahaan yang aktif membantu dalam pembiayaan dan distribusi PMT.

Dana untuk program tersebut juga bersumber dari Dinas Kesehatan, Dinas DP3A2KB, serta Dana Desa. Dengan kolaborasi tersebut, diharapkan penurunan angka stunting akan lebih cepat dan merata.

Umar menargetkan program desa siaga stunting akan diperluas ke 16 desa dalam tahun 2025, mengingat masih banyak desa dengan prevalensi stunting tinggi.

“Saat ini baru satu desa yang kita launching, namun kami targetkan tahun ini ada 16 desa. Fokusnya tentu pada desa-desa yang menjadi lokus utama stunting,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)