BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat angka stunting menurun lebih dari 10 persen berdasarkan data internal yang dihimpun Dinas Kesehatan setempat.
Berdasarkan data dari dinas kesehatan, jumlah balita pendek di daerah tersebut sebanyak 2.543 anak (stunting) atau 19,61 persen dari total 12.966 balita yang diukur pada bulan timbang desember tahun 2024. Sedangkan berdasarkan hasil survei kesehatan indonesia (SKI) 2023 angka stunting mencapai 35,5 persen.
"Dan dari hasil perhitungan internal terjadi penurunan yang cukup signifikan angka stunting yakni sebesar 22 persen. Namun tentu saja kita masih menunggu hasil rilis resmi dari kementrian kesehatan," kata Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor, Sabtu, 21 Juni 2025.
Penurunan angka stunting di Kotim tidak lepas dari berbagai program inovatif yang digulirkan Pemkab, seperti grebek Stunting berupa pemberian susu dan telur kepada 2.167 balita di seluruh wilayah kabupaten. Kemudian pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita di 17 kecamatan.
Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) yang diterapkan di 33 desa sebagai langkah pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan makanan bergizi seimbang juga memberi andil penurunan data stunting di Kotim.
Halikinnor menekankan pentingnya intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Masa tersebut merupakan periode krusial dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.
“Stunting adalah akibat kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan. Anak stunting berisiko mengalami gangguan kognitif dan penyakit kronis di masa depan. Oleh karena itu, pencegahan harus dimulai sejak dini dengan dukungan seluruh pihak,” ujarnya.
Pemkab Kotim terus mendorong sinergi semua sektor, baik perangkat daerah, dunia usaha, maupun masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan target nasional penurunan stunting menjadi 14% pada 2025. (DEWI PATMALASARI/H)









