SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) menyebut tak banyak dampak ekonomi yang dirasakan daerah ini akibat kemacetan panjang fi jalur alternatif Jembatan Sei Lenggana. 

"Berdampak tetapi tidak terlalu besar paling sektor-sektor tertentu saja yang terkait dengan transportasi penumpang, ini tidak mengangkut kebutuhan barang," kata Plt Asisten II Bagian Ekonomi dan Pembangunan Setda Kotim Rody Kamislam, Kamis, 31 Juli 2025.

Lanjutnya, pembangunan Jembatan Sei Lenggana merupakan proyek penanganan jalan nasional yang menjadi kewenangan Balai Jalan Nasional (BJN) di Provinsi Kalimantan Tengah. Akibat pembongkaran jembatan di ruas jalam nasional tersebut, yntuk sementara arus lalu lintas dialihkan ke jalan dan jembatan alternatif dengan sistem buka tutup. Kondisi tersebut menyebabkan kemacetan dan antrean kendaraan hingga berjam-jam.

Jalan dan jembatan alternatif pun memiliki kekuatan terbatas dengan tonase maksimal 8 ton. Sehingga truk bermuatan dibatasi dengan bobot maksimal 8 ton dan ketinggian 5 meter untuk menghindari insiden akibat jalan alternatif yang rentan amblas.

Kondisi lalu lintas tersendat tersebut akan berlangsung hingga masa kontrak proyek penggantian Jembatan Sei Lenggana berakhir pada Desember 2025.

Atas hal itu, Rody memastikan tak akan ada dampak ekonomi yang signifikan. Seban selama ini Kotim bergantung pada pasokan bahan pangan dari Banjarmasin yang melalui jalan penghubung Banjarmasin-Palangka Raya-Sampit. Sedangkan Jembatan Sei Lenggana menjadi penghubung Sampit-Pangkalan Bun.

"Kalau dari Pangkalan Bun saya kira tidak terlalu banyak terganggu karena kebutuhan pasokan ayam, beras, dan barang-barang pertanian yang masih belum tersedia di Kotim saya yakin masih banyak distribusi dari arah Banjarmasin Palangkaraya Sampit," imbuhnya. 

Sedangkan Pangkalan Bun kondisinya sama seperti Sampit sebagai daerah penerima terhadap kebutuhan pokok yang tidak ada di wilayah masing-masing.

"Sehingga tidak terlalu banyak pengaruhnya itu. Mungkin yang berkaitan dengan transportasi sirkulasi penumpang dari Palangkaraya ke Pangkalan Bun yang terkendala, tetapi kalau untuk logistik aman," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)