BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) terus mendorong percepatan realisasi program konversi minyak tanah ke gas elpiji untuk enam kecamatan yang hingga kini belum tersentuh program tersebut. Keenam kecamatan itu adalah Kota Besi, Telawang, Mentaya Hulu, Bukit Santuai, Telaga Antang, dan Antang Kalang.
"Permohonan sudah kami ajukan. Prosesnya memang harus melalui tahapan di Direktorat Jenderal Migas dan pelaksanaannya di lapangan dilakukan oleh Pertamina. Itu prosedur normatif yang berlaku di seluruh Indonesia," kata Kepala Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Setda Kotim, yang juga Plt Asisten II Setda Kotim, Rody Kamislam, Jumat, 1 Agustus 2025.
Ia menjelaskan, jika skema konversi dengan pendanaan dari APBN tidak memungkinkan, maka Pemkab Kotim akan mendorong konversi mandiri, mengingat sebagian besar masyarakat di enam kecamatan tersebut sudah menggunakan tabung elpiji 3 kilogram.
"Kondisi eksisting sekarang ini menunjukkan bahwa minyak tanah dan kayu bakar nyaris tidak digunakan lagi. Masyarakat sudah beralih ke gas elpiji, hanya saja belum ada penetapan resmi konversi. Kalau konversi dilakukan, pemerintah tinggal mendukung dari sisi distribusi, tanpa perlu lagi pengadaan tabung," ujarnya.
Tanpa ada konversi, enam kecamatan tersebut tidak bisa didirikan pangkalan gas elpiji resmi. Sehingga masyarakat mengandalkan pasokan gas elpiji dari kecamatan lain yang membuat harga melambung tinggi. Padahal sesuai program Pertamina, satu desa minimal harus memiliki satu pangkalan elpiji.
"Kita masih belum mempertanyakan lebih lanjut seperti apa untuk program konversi ini. Semoga awal tahun depan sudah ada konversi minyak tanah gas elpiji itu," imbuhnya.
Ke depan, Pemkab Kotim tengah mengusulkan kerja sama dengan Koperasi Merah Putih untuk dijadikan mitra resmi agen gas elpiji. Terutama di kecamatan yang tengah diupayakan untuk konversi mandiri.
"Kita berharap kolaborasi dengan koperasi merah putih untuk menjadi pangkalan resmi dari agen. Sehingga koperasi merah putih bisa menangkap peluang, ini yang akan kita usulkan agar bisa berkolaborasi dengan koperasi merah putih saat konversi sehingga kekhawatiran harga yang jauh dengan harga yang beredar atau harga eceran tertinggi bisa teratasi," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/y)









