SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) menetapkan status siaga bencana banjir selama 48 hari, mulai 12 September hingga 29 Oktober 2025.

"Mulai hari ini, 12 September hingga 29 Oktober 2025, 48 hari kita tetapkan status siaga banjir. Ini terjadi kembali seperti tahun 2022 status bencana berjalan bersama, siaga karhutla dan siaga banjir," kata Asisten I Setda Kotim Rihel, Jumat, 12 September 2025.

Hal itu disampaikannya saat rapat koordinasi lintas sektor yang dilakukan bersama Basarnas, Polres Kotim, Kodim 1015 Sampit, BMKG, Balai Wilayah Sungai (BWS), Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut disepakati status siaga banjir karena banjir sudah melanda 17 desa di 6 kecamatan, di antaranya Kecamatan Cempaga Hulu, Telaga Antang, Antang Kalang, Tualan Hulu, Parenggean, dan Mentaya Hulu.

Ia juga memprediksi wilayah Kecamatan Kota Besi, khususnya Desa Hanjalipan, akan ikut terdampak karena berada di dataran rendah dengan potensi banjir lebih tinggi akibat kiriman air pasang serta pertemuan aliran Sungai Mentaya dan Sungai Tualan.

“Status siaga ini kita lakukan untuk mengantisipasi ke depan. Jika terjadi banjir besar, status bisa segera dinaikkan menjadi tanggap darurat agar bantuan bisa disalurkan dengan cepat,” ujarnya. 

Ia menerangkan, pada status siaga pemerintah daerah belum bisa menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT). Namun, jika sudah tanggap darurat, dana tersebut bisa segera dimanfaatkan untuk penanganan bencana. 

Selain itu, Dinas Sosial dan Basarnas akan melakukan pengecekan lapangan, termasuk jika terjadi korban tenggelam. Sedangkan Dinas SDABMBKPRKP akan mendata infrastruktur jalan dan jembatan yang terdampak banjir agar bisa segera ditangani.

Berdasarkan informasi dari BWS dan BMKG, intensitas hujan di Kotim saat ini berada pada kategori sedang hingga menengah, dengan kemungkinan hujan ekstrem di beberapa wilayah.

“Hal ini yang harus kita antisipasi. Jangan sampai ketika banjir besar datang, kita belum siap dengan status tanggap darurat. Dengan status siaga, segala potensi dan sumber daya sudah siap bergerak,” pungkas Rihel. (DEWI PATMALASARI/Y)