BORNEONEWS, Sampit – Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, meminta optimalisasi peran Perusahaan Besar Swasta (PBS) dalam membantu penyediaan beras bagi masyarakat kurang mampu dan panti asuhan, khususnya selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Menurut Halikinnor, potensi dukungan dari sektor swasta di Kotim sangat besar, mengingat banyaknya perusahaan perkebunan, pertambangan, hingga perbankan yang beroperasi di wilayah tersebut.
"Saya minta ini menjadi perhatian OPD terkait. Kita punya banyak perusahaan besar swasta, tinggal diminta 100 kilogram per perusahaan, saya yakin mereka mau membantu," ujarnya, Rabu, 25 Februari 2026.
Dorongan tersebut disampaikan setelah melihat penyaluran bantuan beras dari pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian bersama mitra distributor PT Brasma Bersama yang dinilai masih terbatas. Dari total 150 kilogram beras yang disalurkan, bantuan tersebut dibagi kepada tiga panti asuhan, yakni Annida Golbu, Bahagia, dan Putra Borneo, masing-masing menerima 50 kilogram.
Halikinnor menilai jumlah tersebut masih bisa ditingkatkan apabila melibatkan lebih banyak kontribusi dari PBS melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
"Potensi kita besar, tapi belum digali maksimal. Apalagi ini bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Saya yakin perusahaan sudah menyiapkan dana sosial untuk membantu masyarakat," ujarnya.
Ia meminta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar lebih aktif menjalin komunikasi dengan perusahaan sebelum pembukaan Pasar Ramadhan, termasuk dengan menyurati PBS agar menyalurkan bantuan minimal 100 kilogram beras per perusahaan.
Menurutnya, dengan banyaknya perusahaan yang beroperasi di Kotim, pengumpulan bantuan hingga beberapa ton beras bukan hal yang sulit jika dilakukan secara terkoordinasi.
"Kalau ada yang tidak mau membantu, laporkan ke saya. Biasanya kalau saya langsung hubungi pemiliknya, bukan hanya 100 kilogram, satu ton pun bisa diberikan. Tinggal kita yang harus proaktif," tegasnya.
Ia menambahkan, jika bantuan beras terkumpul dalam jumlah besar, penyalurannya bisa diperluas tidak hanya untuk panti asuhan atau pondok pesantren, tetapi juga bagi warga kurang mampu seperti janda miskin dan pekerja berpenghasilan rendah.
Ia menilai bantuan 20 hingga 25 kilogram beras per kepala keluarga sudah sangat membantu meringankan beban pengeluaran selama satu bulan, terutama di tengah keterbatasan energi saat menjalankan ibadah puasa.
"Bulan puasa tidak sama seperti bulan biasa. Waktu dan tenaga terbatas. Dengan adanya bantuan beras, mereka tidak perlu khawatir memenuhi kebutuhan makan. Itulah makna berbagi di bulan penuh rahmat ini," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









